Now Reading
Pelayanan, Lumayan dan Aji Mumpung
0

Pelayanan, Lumayan dan Aji Mumpung

by adminDecember 31, 2018

Oleh Abdul Munib

Presiden Gus Dur membuat garis demarkasi dengan dirinya sendiri. Siapa tokoh Indonesia terkuak dimuka publik aslinya seperti apa mereka. Apakah pelayan rakyat, sekedar lumayan jadi pejabat atau yang tabiat aji mumpung.

Ketika raja-raja atau presiden lain diturunkan dengan paksa, yang jatuh selalu nyawa. Tapi Gus Dur tidak. Pendiriannya pada kemanusiaan yang adil amat kuat. Tak ada jabatan apapun di muka bumi ini yang layak dipertahankan dengan menumpahkan darah manusia, katanya. Dan ia mempraktekannya. Tidak sekedar bicara.

Konstitusi kita tidak mengatur sesama lembaga tertinggi negara, Presiden dan MPR, saling menghegemoni. Saling melengserkan. Dari titik ini kita terus mempelajari.

Tapi Gus Dur sendirian. Berhadapan dengan seluruh kekuatan politik yang ada waktu itu. Rakyat yang siap mati membelanya ia larang bergerak melakukan apapun. Bahkan disuruh pulang.

Konstitusi pun dilanggar. Ia pun dikudeta, di siang bolong ibu kota. Yang di tangannya sisa satu senjata. Dekrit. Ketika ditanya dalam wawancara, apa Gus Dur masih ingat isi dekrit itu. Dia jawab enteng, lha itu yang isi anak-anak. Ya kan dekritnya presiden punya, isinya terserah rakyat. Sambil ketawa ringan ia bicara.

Sebenarnya ia tak perlu dijatuhkan, seandainya tawaran jarahan kekuasaan yang diajukan partai politik disetujuinya. Pak Mahfud sebagai negosiator waktu itu sudah senang, tinggal angkat satu menteri atau dua menteri sesuai permintaan selesai perkara. Gus Dur aman.

Gus Dur tak mau selingkuh kekuasaan dari rakyat. Ia sekalipun tak pernah ingin amanat yang dipegangnya harus dikhianati dengan jarahan kekuasaan. Yang padahal ia dengan mudah mengatas namakan Hak Preogatif Presiden. Di titik tertentu, tafsir kekuasaan adalah milik satu orang : presiden. Ia memilih dijatuhkan ketimbang prinsipnya dicabik. Ia ingin tetap berada di hati rakyatnya walau musuhnya menjatuhkannya.
Dan dia betul, kuburannya tak pernah sepi dari pejiarah lintas agama. Ia milik rakyat kecil dan kaum minoritas. Ia mempraktekan Pancasila dalam hidupnya sebatas ia mampu memakrifati dan mengamalkannya.
Siapa yang benar-benar pelayan rakyat, atau sekedar lumayan bisa berkuasa atau yang aji mumpung dalam perjalanan berbangsa bisa dilihat dari panjangnya cinta rakyat yang tak pernah terkubur sejarah.

Terima kasih Gus atas pendidikan dan pelajaran luar biasa untuk bangsa yang kita cintai ini. Presiden Jokowi mewarisi kejujurannya, keberaniannya dan amanahnya.

Angkringan Fiksafat Pancasila

216total visits,1visits today

Leave a Response