Now Reading
Sejarah dan Budayaku Akan Punah
0

Sejarah dan Budayaku Akan Punah

by adminDecember 29, 2018
Catatan Engelbertus P Degey

Berhari hari kukejar listrik selesaikan pohon dalam peperangan. Kudapati waktu dalam ketidakpastian, tetapi syukur berlaku. Kini kukejar lagi dan lagi. Jembatan pengorbanan. Ingin kusebrangi, pohon sudah habis. Berharap pada yang buta, tak akan melihat.

Hidup harus mulai dari sederhana, keringat dan pengorbanan. Cintah kasih dan pengertian diatas segalanya. Belajar merendah, ingin membantu dan bekerja. Segala sesuatu tak gratis, tetapi jujur dan setia. Kukembalikan itu padamu, karena kuhargai keputusanmu.

Anak, engkau mau pergi sekolah diseberang kali, jangan lagi tunggu ojek. Mama, engkau mau pergi jual nota ke Bomomani, pakailah kakimu.

Nasehat dan budaya leluhur kini tak terdengar lagi. Karena kita miliki tradisi lisan. Tak ada dokumentasi, apalagi perpustakaan. Generasi sekarang, generasi Amerika Serikat; berjas lengan panjang, goyang sentuh sentuh gosi. Ade-ade perem di acara Kewa dong kalahkan Inul. Melanesia PNG masih berbudaya, ada gantung bunga di kepala.

Guru pun tak mau tanya: coba nyanyikan lagu Komauga, Atouga, apalagi yang paling sederhana: Wani atau Aaaki. Syukur Titus Pekei, ajak bawa noken.

Anak anak ini menangis, benar-benar menangis. Mau menempuh pendidikan, ayahnya korban politik pilkada. Orang tuanya menuntut kaya tanpa keringat. Semua dalam tekanan dan cinta tak mengalir.

Ia menangis benar menangis dalam alam bawa sadar. Sebab suatu saat dia akan menyangkal kulit dan rambutnya, Papua. Mari kita berdoa kepada penentu untuk semakin bernurani dalam segala hal.

Untukmu Maisini Misael dan Titus Pekei.

Engelbertus P Degey

Seniman, Wartawan dan Peneliti

Lahir di Enarotali, 23 Mei 1977 dari orang tua Laurentius B Degey dan Martina Tekege. Menggeluti dunia jurnalistik sejak 1996 di Buletin Suara Yakonde, Papuapos Nabire dan Swarapapua.com.
Engelbertus P Degey

Try a different filter
More

Like

Leave a Response