Now Reading
Pendekatan Kaidah Rasional dan Kaidah Empirik
1
Review

Pendekatan Kaidah Rasional dan Kaidah Empirik

by December 24, 2018
Kang Mat : Gerindera partai besar. Ini harus disyukuri dulu. Tak ada yang membayangkan Gerindera sebesar sekarang. Bahkan para surveyor pun tak pernah membayangkan. Ini artinya apa Dul ? Ini artinya kepercayaan masyarakat cukup besar.

Santri Kalong : Kaidah logika dalam Pilpres ini apa saja Kang ?

Kang Mat : Kita mulai dulu dari awal. Yakni Pembeda atau diferensiasi manusia dari genusnya yakni hewan. Pembedanya hanya satu, yakni rasionalitas itu. Manusia itu hewan rasional. Rasionalitas adalah kemanusiaan. Kemanusiaan adalah rasionalitas. Dari rasionalitas lahlahir ilmu-ilmu pengetahuan. Realitas adalah sebab, ilmu pengetahuan adalah akibat. Ilmu pengetahuan yang subjeknya paling umum atau unversal adalah ilmu filsafat metafisika. Kaidah-kaidahnya dengan pendekatan rasionalitas. Cenderung deduktif.
Sedangkan ilmu pengetahuan terminologis dan Iptek kaidah pendekatannya empiris. Cenderung induktif.

Kalau kaidah pendekatan rasionalitas kita soal Pilpres, menghimpun proposisi umum dari realitas lima tahun. Misalnya, proposisi belum kerja saja Joko Widodo menang atas Prabowo Subiyanto di 2014. Ini realitas. Apalagi setelah ia berhasil kerja banyak sekali.
Misalnya begitu, itu kaidah pendekatan rasional. Kalau pendekatan empirisnya ya hasil survei-survei itu, dan gejala menurunnya kantung suara Prabowo Subianto di NTB, Banten, Jabar, DKI, Sumbar, Sumut, Riau, Kepri. Rakyat Indonesia Timur mulai Sulawesi merasa baru kali ini ada pemerataan dibanding presiden sebelumnya, walau suara disini sedikit. Tapi sebuah opini bisa menular.

Bung Cebong : Coba Kang beri ketentuan proposisi rasional lain tentang Pilpres ini.

Kang Mat : Banyak sekali. Misalnya sepuluh kesamaan Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Capres yang dipilihnya sama. Pemilihnya sama, rakyat Indonesia. Penyelenggaranya sama KPU. Undang-undang yang mengaturnya sama. Ramainya Medsos sama. Isyu PKI juga sama. Berbau SARA sama. Warna Orde Lama Soekarno versus Orde Baru Soeharto, sama. Soal jomblonya sama. Cebong-Kampretnya sama.

Bung Cebong : Kalau semua sama lalu yang berbeda apanya Kang ?

Kang Mat : Yang berbeda perolehan suara masing-masing Capres. Dan dalam sistem Pilpres kita, selisih satu suara saja sudah cukup untuk dapat dilantik jadi presiden Republik ini.

Dul Kampret : Jangan begitulah Kang, saya jadi merasa kalah sebelum bertanding nich. Kang coba beri semangat untuk kami juga lah. Kan namanya kemungkinan tetap saja terbuka.

Kang Mat : Dul, saya kan tidak bilang Pak Prabowo Subianto bakal kalah di Pilpres 2019. Itu namanya jugedment. Itu tidak boleh. Saya hanya menjelaskan dua pendekatan kaidah rasional dan kaidah empiris. Kalau ditanya bagaimana caranya Pak Prabowo menang, kamu sebagai timnya harus berpikir sekuat tenaga. Bahwa di alam materi ini hukum yang berlaku adalah hukum kausalitas. Ya kerja yang benar dan tekun. Hukum langit ya berdoa dengan baik. Kalau seluruh rakyat Indonesia berdoa kepada Tuhan agar Pak Prabowo menang, dijamin pasti terkabul. Makanya jangan mengkafir-kafirkan orang supaya kalau doa banyak yang ikut. Kalau begini yang berdoa kan kamu-kamu saja yang tidak kafir.

Dul Kampret : Jangan bercanda Kang. Saya serius tolong sumbang kami pemikiran.

Kang Mat : Begini Dul. Kemarin saya kan ketua tim lobi agar Prabowo mau jadi Cawapres Pak Jokowi. Tapi orang sekeliling beliau pendapatnya lebih dominan. Kedua, kalau bergabung kelompok anti-Pancasila akan susah menang. Lha rakyat Indonesia masih setia Pancasila. Lha suruh bunuh PKI saja rakyat mau kok, karena taruhannya Bangsa dan Negara. Kalau akhirnya harus bergabung kelompok anti-Pancasila ngapain dulu rekasa masuk pasukan khusus. Dul, namanya masuk pasukan khusus itu hidup dan mati sudah diwakafkan untuk Pancasila. Pancasila yang paling penting dalam hidup mereka. Jelas sekali PKI dan HTI sama-sama musuh Pancasila.

Dul Kampret : Bagaimana Kang melihat peluang kami ke depannya ?

Kang Mat : Gerindera partai besar. Ini harus disyukuri dulu. Tak ada yang membayangkan Gerindera sebesar sekarang. Bahkan para surveyor pun tak pernah membayangkan. Ini artinya apa Dul ? Ini artinya kepercayaan masyarakat cukup besar. Syukuri syukuri dan syukuri keadaan ini. Tuhan bilang kalau kau pandai bersyukur Dia yang akan menambahnya. Belajar lah banyak dari kejatuhan Partai Demokrat. Di Pemilu 2009 dia pemenang, di 2019 nanti bahkan belum yakin bisa lolos ke Senayan. Hasil survey anjlok dan tipis di angka parlementreshol empat persen.
Kuncinya menjaga kepercayaan yang punya suara, yakni rakyat. Bagaimana cara terus merawat kepercayaan rakyat pada Gerindera, ini penting Dul. Bangsa ini bukan bangsa yang bodoh. Makrifati sedalam-dalamnya siapa bangsamu ini. Kau akan terus bahu membahu bersama mereka. Jangan berpikir untuk satu hari ini saja, pikir jauh ke depan.

Santri Kalong : Apa makna bangsa dan negara ini menurut Kang Mat ?

Kang Mat : Long, soal bangsa dan negaramu
adalah yang juga akan ditanyakan Tuhanmu kelak. Agama ini bukan agama yang seseorang bisa jalan kaki sendirian menemui Tuhan tanpa ditanya tanggung jawabmu pada bangsamu. Sesunghuhnya Allah tidak akan merubah kaum (bangsa) sampai dari jiwa-jiwa mereka bangkit melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Jiwa adalah milik masing-masing kita Long. Jiwa harus larut dalam gerak substansi bangsa. Ingat kitab suci berulang kali mengisahkan dihapusnya bangsa yang zalim dari peta bumi.

Angkringan Filsafat Pancasila

Abdul Munib

Wartawan Senior Tanah Papua

Abdul Munib ialah wartawan senior tanah Papua yang sudah berkarya sejak tahun 1980-an. Pernah mendirikan Cendrawasih Pos Jayapura, kemudian mendirikan beberapa koran harian yang terbit di beberapa kota besar di tanah Papua. Sekarang menjabat Ketua PWI Provinsi Papua.Informasi selengkapnya, klik tombol kotak biru dibawah, anda akan mengetahui informasi dan tulisan-tulisan lain dari penulis.
Abdul Munib

358total visits,1visits today

1 Comments
  • December 28, 2018 at 10:44 pm
    Positives

    Jokowi di papua tidak bisa mendapat suara banyak karena banyak pelanggaran HAM dan tak pernah dihukum bagi yang melanggar HAM

    Negatives

    Jokowi juga tidak pernah perhatikan kepentingan masyarakat papua tetapi memperlakukan seperti babi atau binatang

    di Papua dipastikan GOLPUT dan tak akan ada orang yang pergi ke TPS. apalagi memilih Jokowi.

Leave a Response