Now Reading
Beda Doa Rasulullah dan Rocky Gerung
0

Beda Doa Rasulullah dan Rocky Gerung

by adminDecember 24, 2018
Nabi Muhamad berdoa. Rabbi arina al asyya kama hiya. Tuhanku, tunjukan kepadaku hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya. Nabi memohon agar Tuhannya memberi kemampuan padanya untuk memahami sampai pada setiap hakikat segala sesuatu. Padahal beliau adalah model insan kamil. Dia sedang mengajar manusia. Bahwa manusia harus senantiasa sumeleh di depan Tuhan.

Oleh Abdul Munib*

Nabi Muhamad berdoa. Rabbi arina al asyya kama hiya. Tuhanku, tunjukan kepadaku hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya. Nabi memohon agar Tuhannya memberi kemampuan padanya untuk memahami sampai pada setiap hakikat segala sesuatu. Padahal beliau adalah model insan kamil. Dia sedang mengajar manusia. Bahwa manusia harus senantiasa sumeleh di depan Tuhan.

Berdo’a adalah kegiatan yang tak boleh selesai. Begitu juga pekerjaan memakrifati. Tak bisa selesai. Filsafat metafisika mendalami mafhum wujud. Bagaimana eksistensi itu dapat difahami mengada seperti esensi cahaya. Kuat atau kemah tetap namanya cahaya. Lalu bagaimana bhineka yang beraneka ragam penampilan ini terhubung dengan realitas tunggal, dalam hierarkinya masing-masing.

Tapi Rocky Gerung berbeda. Ia merasa telah menemukan banyak hakikat segala sesuatu. Ia mempertontonkannya kepada publik. Perasaan telah bisa memakrifati itu dipakainya untuk kegenitan berpikirnya di muka umum mengalahkan politisi yang otaknya pas-pasan. Ia memang penggandrung filsafat. Tapi fiksafat Barat. Sebagai orang Timur ia sedang kami tunggu di Pakandangan. Bukan untuk dipermalukan. Tapi untuk bersama makan tempe mendoan. Makhluk harus dimuliakan, karena pemiliknya adalah Tuhan.

<span style=”float: left; color: black; font-size: 100px; line-height: 50px; padding-top: 5px; padding-right: 5px; font-family: Georgia; text-shadow: 4px 4px 8px #span>;”> Huruf  awal </span>

Sedangkan Mulla Sadra ia punya definisinya sendiri. Katanya filsafat itu proses penyempurnaan jiwa manusia. Melalui tahap urutannya memakrifati hakikat seluruh keberadaan. Ketentuannya harus dengan uji ilmiah yang argumentatif. Tidak boleh hanya sangkaan. Tidak boleh taqlid dalam ilmu makrifat ini. Taqlid dalam agama hanya khusus soal fiqh saja, lainnya tidak. Harus cari masing-masing.
Pekerjaan memakrifati hakikat ini sesuai kadar kemampuan masing-masing juga. Tiap orang tidak dituntut capaian makrifat yang sama. Dari hasil perolehan makrifat sesuai kadar itukah kita meniru seluruh kebaikan Tuhan. Dengan itu juga makna Tuhan disembah. Karena itu pula nilai rakaat setiap orang tidak sama satu sama lain.

Karena manusia itu adonan. Tercampur materi dan non materi. Materi yang teeripta dan terkait. Perkara yang terbentuk bermakna dan murni. Kesatuan teori dan praktek. Kesatuan beriman dan beramal sholeh.

Dengan dua sayap itu manusia turun dari langit dan hendak terbang lagi ke langit, dengan sayap sayng sama : ilmu dan amal. Harapan dan ketakutan.

Angkringan Fiksafat Pancasil

Abdul Munib

Wartawan Senior Tanah Papua


Abdul Munib ialah wartawan senior tanah Papua yang sudah berkarya sejak tahun 1980-an. Pernah mendirikan Cendrawasih Pos Jayapura, kemudian mendirikan beberapa koran harian yang terbit di beberapa kota besar di tanah Papua. Sekarang menjabat Ketua PWI Provinsi Papua.Informasi selengkapnya, klik tombol kotak biru dibawah, anda akan mengetahui informasi dan tulisan-tulisan lain dari penulis.
Abdul Munib
Like

Leave a Response