Now Reading
Aku
0

Aku

by adminAugust 22, 2018

AKU

Oleh Abdul Munib

Bukan aku lelah. Bukan. Juga bukan karena aku hendak bersandar di bahu Kiai Sepuh yang aku pilih jadi wakilku. Aku hanya tidak tega, jika agama harus terus jadi alat politik. Aku harus mencegahnya sebisa mungkin
aku bisa. Aku lebih baik tidak nyapres dari pada menyetujui agama untuk dijadikan alat politik. Semua ini bukan tanggung jawab seorang diri tapi harus menjadi mufakat bersama. Dan caranya hanya satu. Kiai Banten yang harus jadi wakil. Dia adalah hujah yang tepat untuk menghentikan politisasi agama. Kiai itu simpul yang menghubungkan semua umat. Kalau mereka juga mau membully Kiai artinya mereka siap berakhir di Nusantara.

Belakangan agama digunakan sekedar tunggangan kepentingan politik para badut yang tak tahu malu. Aku sangat mencntai agamaku. Agamaku menyuruh aku mencintai negaraku. Mempertahankannya dari ulah antrek-antek bangsa yang khianat karena dunia.

Kemarin aku pimpin upacara. Tujuh belasan yang ke 73. Angin Nusantara masih menggerakan kibar Merah Putih. Itulah jiwaku. Tak akan menyerah oleh hoak, nyinyir dan iri dengki. Ajakan-ajakan menghujat pemerintah. Paman Sam pernah menipu pendahuluku. Katanya Pelita ke lima akan tinggal landas, nyatanya Krismon. Selama 32 tahun hanya diberi harapan palsu. Seterusnya 10 tahun pendahuluku ngutang terlaku banyak akhirnya beban rentenir harus aku bayar cicil banyak. Sebenarnya ngutang tak apa-apa asalkan untuk hal produktif.

Aku tahu, memang bandara, pelabuhan, bendungan dan jalan tak bisa dimakan. Tapi infrastruktur itu mutlak diperlukan untuk penunjang ekonomi. Aku ingin ini nenjadi semangat rakyat Indonesia, bangsa ini harus bangkit. Harus tahu hakikat Indonesia dan duduk sejajar dengan bangsa lain di dunia. Aku ingin semua menjadi layak di muka bumi dan layak disisi Tuhannya. Baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.

Sudah terlalu lama rakyat diterlantarkan cari hidup sendiri. Birokrat sibuk dengan dirinya, segalanya yang penting hanya rente komisi dan tertib administrasi. Manusia pemegang kuasa tak cukup hanya baik di seputar presiden dan menteri saja. Harus seluruhnya sampai ke tingkat provinsi, kabupaten dan desa. Legislatif dan yudikatif juga harus manusia yang sudah selesai dengan dirinya. Eropa sedang menampilkan panghung Sudra Berkuasa.

Makanya selesai menghabiskan masa tahanan di Mako Brimob aku akan menjadikan sahabatku Menteri Dalam Negeri khusus untuk tugas mempersiapkan manusia birokrat yang mengerti masalah dan tahu yang harus dilakukan. Bahwa kedepan kita harus memulai dari Revolusi Pancasila. Rakyat harus faham ini. Dengan terhubungnya di alam materi dan non-materi, kesatuan utuh mafhum falsafah Pancasila.

Aku kini bertarung di ranah terbelakang infrastruktur, di ranah hegemoni mafia, di ranah penghancuran negeri berpenduduk muslim, di ranah keberlanjutan Revolusi Pancasila dan satu lagi : Aku harus melakukan rekonsiliasi nasional yang tertunda. Aku mau ngajak Mas Bowo baik-baik. Aku akan jadikan Suharto Pahlawan Nasional kategori integrasi, dan pengembalian harta hasil KKN. Kita kuatkan pemahaman falsafah Pancasila sebagai bahan memasuki era 75 tahun kedua Indonesia yang kuat dalam Ketuhanan Yang Maha Esa. Harus jadi bangsa yang berharga diri dan pantang hina.

Catatan belum selesai
Kang Mat Pakandangan

Angkringan Filsafat Pancasila

153total visits,2visits today

Leave a Response