Now Reading
Pemimpin Adalah Pelayan, Tetapi Tak Semua Terpanggil Menjadi Pelayan
0

Pemimpin Adalah Pelayan, Tetapi Tak Semua Terpanggil Menjadi Pelayan

by adminAugust 19, 2018

Pemimpin Adalah Pelayan, Tetapi Tak Semua Terpanggil Menjadi Pelayanan

Oleh Amoye Pekey

Dua bulan terakhir oleh anugerah Tuhan, saya sempat bertemu dengan orang-orang hebat. Mereka adalah para pelayan yang melaksanakan tugas sebagai Walikota, Sekretaris Daerah, Pimpinan NGO Bahkan Pimpinan Sinode Gereja. Saya banyak mendengar kesaksian dari orang – orang tentang mereka tetapi belum langaung berdiskusi dengan mereka sebelumnya.

Saya mengetahui mereka, mereka disegani bukan karena kepemimpinan mereka tetapi mereka disegani karena kesetiaan dalam pelayanan mereka. Selama 4 tahun lebih saya membantu pemerintah kota Jayapura dalam mengembangkan program anak jalanan di kota Jayapura. Semua telah ketahui anak jalanan adalah anak yang terabaikan dan terhina. Saya kaget setahun lalu pada tempat terpisah saya mendengar walikota Jayapura menemui mereka, saya kaget seorang walikota bisa turun langsung menemui mereka dan berdiskusi dengan mereka.

Ini sesuatu yang jarang saya mendengar dan menemui di negeri ini ada seorang walikota bisa memberikan turun la gaung menemui anak jalanan dan memberikan perhatian kepada mereka. Tidak hanya menemui tetapi walikota punya komitmen kebijakan untuk membantu mereka. Sesaat bertemu walikota saya menyampaikan harapan – harapan anak-anak ini kepada walikota. Saya kagum semalam telpon beliau janjian besok bertemu dan akhirnya bertemu. Pa Tomi Mano, bukan hanya pemimpin tetapi dia juga pelayan. Ia sala satu tokoh pemerintah yang pernah saya temui penuh inspirasi karena banyak melayani, beliaulah yang menggabungkan nilai religi dan pemerintahan yang dikemas dalam moto ” satu hati membangun kota untuk kemuliaan Tuhan”.

Ada juga seorang yang penuh inspirasi dan bersahaja. Kali ini sedikit tentang pelayan yang menjadi pemimpin dikalangan para pamong atau aparat sipil negara (ASN) di Lani Jaya, tentunya pa Christian Sohilait. Saya banyak mendengar dari cerita para senior saya tentang beliau, banyak berita dan kabar tentang beliau yang dikenal dengan kedisiplinan dalam tugas-tugasnya sebagai Sekda Lani Jaya. Tidak sadar dalam tigas saya mempunya kesempatan menemuinya pada suatu waktu. Hanya karena “anugerah” saya bisa bertemu dan berdiskusi dengan beliau dan saya mendapatkan ada semangat seorang pamong menjalankan tugas dengan ide- ide brilian membangun ASN dan masyarakat. Semua pasti tertib, dimana ada beliau disitu pasti tertib.

Suatu saat saya lagi duduk di kantor BAPPEDA Lani Jaya kemudian ada mobil yang masuk, semua orang dalam kantor saling berbisik ” SEKDA datang ” dalam seketika semua menyimpan, yang merokok matikan, makan pinang buang, yang santai siap. Saya hanya duduk dan melihat ada apa, ternyata pa Sekda datang. Kehadirannya menggertakan bawahannya, mebuat “perubahan perilaku” dalam seketika. Padahal setelah berdiskusi dengannya serasa nyambung beliau mampu memecahkan suasana tegang menjadi akrab. Suasana menjadi cair dalam berdiskusi tugas – tugas SKPD saat itu penuh dengan motivasi, ide – ide dan banyakl memberikan inspirasi. Setelah beliau pulang beliau meninggalakn kesan positif. Mereka menyampaikan kepada saya “pa SEKDA hebat”.

Anton Tarigan. Nama ini tidak asing di kalangan lembaga – lembaga donor international. Saya mendengar nama beliau dari para senior saya yang pernah bekerja bersama beliau. Beliau suda cukup lama berkecipung dalam lembaga donor. Kurang lebih 15 tahunya bekerja di Papua dalam bidang pembangunan yang lebih banyak bermitra langsung dengan pemerintah sebagai mitra pembangunan.

Berayukur ternyata saya bisa bertemu beliau dan menjadi stafnya. Disaat kunjungannya di Wamena, beliau banyak bercerita tentang tugas-tugas dalam program kepada saya. Beliau bukan saja pelaksana tetapi juga perancang dan memberikan kesempatan kepada orang lain bekerja apa yang diciptakannya itu. Selama 13 saya bekerja di NGO internasional dan lembaga Donor jarang saya menemukan perancang program yang melaksanakan program dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Biasanya kontraktor atau pemerintah meminta para ahli merancang dan kontraktor atau pemerintah menjalankannya.

Saya berpikir inilah yang disebut berhikmat. Beliau datang ke Papua melihat ada masalah, cari solusi dan kerjakan dengan program – program yang dilahirkan. Suatu saat saat berbincang dengan beliau, dia berkata “pa Amoye cita2 mau jadi apa ? Saya jawab “cukup jadi orang baik saja pak “, beliau sampaikan lagi, “seorang pencuri juga bisa disebut orang baik karena dia membantu dengan temannya sesama pencuri, itu yang Tuhan bilang tidak ada orang baik. Bagaimana kalau cukup jadi pelayan yang mengabdi, saya ini bukan orang Papua tetapi punya hati untuk orang Papua dengan melayani. Sehingga saya berupaya membuat sesuatu untuk orang Papua sedikit saja berkontribusi”. Saya diam saja sambil merenungkan.

Satu hal yang membuat saya heran dalam kesibukannya melayani di Papua sebagai team leader beliau juga menggembalakan jemaatnya suda 15 tahun sebagai gembala di sala satu Gereja di Medan dan ada sekolah yang dibagun hasil dari pekerjaannya di NGO. Anda mungkin heran ketika baca kesaksian ini. Tapi itu yang saya sebut orang berhikmat hanya diperoleh dari takut akan Tuhan.

Dulu waktu masi SD kelas 2 di Kimbim Wamena saya mengenal kaka Satus Yoman. nama ini yang biasanya kami gunakan dalam keluarga untuk memanggil Pa Socrates Sofyan Yoman waktu itu. Saat itu orang tua saya sebut dia itu kaka kami. Karena suda lama bersama di rumah dan sering ke rumah setelah tidak bersama, saat itu kami anggab beliau sebagai kaka pertama. Sejak itu sekitar 28 Tahun lalu, saya belum berjumpa dengan beliau hingga tepat pada saat ulang tahun saya ke 36 beliau hadir dan bersama saya. Saat itu kita berdiskusi bayak hal tentang seluk beluk bagaimana beliau bisa menjadi pemimpin seperti sekarang.

Siapa yang tidak kenal beliau, saat ini sebagai ketua sinode dan gembala jemaat. Beliau sala satu alumni Universitas Cenderawasih yang menjadi ketua Sinode Gereja Babtis di Papua. Mungkin anda heran sekolahnya di UNCEN bisa menjadi pemimpin para hamba Tuhan gereja Baptis di Papua.Tapi memang melayani Tuhan tidak hanya ketika kita berpendidikan teologia semata, tetapi Tuhan pasti akan menaruh visi disetiap kita dan ketika itu terjadi, maka kita akan melihat keselamatan dan kemenangan.

Beliau tidak hanya memiliki kemapuan menulis dalam menyuarakan suara kenabian atas ketidakadilan di atas Tanah Papua tetapi saat ini juga beliau menjadi sumber pemberitaan media luar negeri di pasifik, australia dan negara lain berkaitan dengan masalah ketidakadilan dan HAM di Papua. Sehingga saat ini beliau sering disebut dengan gembala umat kamum tertindas. Keberaniannya menyampaikan kasus kejahatan dan pembunuhan bagi warga jemaatnya diPapua patut di contohi, harga dirinya ditaruh dan ancaman nyawa ada di depan matanya karena seakan melawan “negara” tetapi perjuangannya hanya untuk melindungi jemaatnya yang telah makin minoritas di Papua. Ada beberapa tokoh yang mirip dengan beliau misalnya pak Dorman dan pak Benny. Ketika banyak hamba Tuhan yang tidak banyak berbicara tentang pelanggaran HAM di Papua ketiga hamba Tuhan ini berdiri paling di depan dan lantang menyuarakannya.

Saya ingat keakraban sebagai keluarga yang selama 28 tahun hilang seakan kembali dalam 2 jam berdiskusi dengannya. Kami duduk dan berbagi cerita dan menanyakan kembali keadaan keluarga. Ketika makan beliau masi terus mengajak kita bercerita. Ketika HP saya bunyi saya melihat HP saya dan beliau menyinggung “kalau saya makan saya tidak akan bawa HP. Saya kendalikan HP, saya taruh dalam mobil supaya yang dekat jangan jauh he. He. He”. Saya kaget dan selanjutnya tidak pegang HP dan kosentrasi terus dengan berdismusi sampai kita berpisah.

Saya belajar dari ke 4 beliau, melihat diri kita untuk masa yang akan datang bukan masa lalu kita. Kita mungkin biasa di masa lalu tetapi masa yang akan datang kita akan menjadi orang yang luar biasa. Orang yang luar biasa tidak perlu menjadi orang hebat cukup saja mempunyai motivasi baik dan melayani. Orang yang motivasinya melayani, dia akan menaruh segalanya untuk suatu pengabdian bahkan nyawapun menjadi taruhan sebagai pengorbanan. Pengorbanan merupakan nilai termulia dari KASIH dan KEADILAN. Tidak perlu jadi pemimpin cukup saja jadi pelayan.

Saya u ini karena kisah- kisah ini sangat memberkati saya untuk menjadi pegangan dalam pengabdian bagi masyarakat di tanah Papua. Tuhan Memberkati.

Amoye Pekei, Pemerhati Sosial Budaya.

435total visits,2visits today

Leave a Response