Now Reading
Melawan Lupa: Antara Act Of Free Choice dan Pepera, Pesan Buat Jokowi
0

Melawan Lupa: Antara Act Of Free Choice dan Pepera, Pesan Buat Jokowi

by adminAugust 18, 2018
Dalam buku Freddy Numberi, Quo Vadis Papua, sudah disampaikan pesan kepada bangsa ini, bahwa jalan terbaik bagi Indonesia, ialah kembali berdialog dengan orang Papua, karena Negara telah gagal meng "Indonesiakan" orang Papua, dan negara telah gagal memenangkan hati dan pikiran orang Papua, sehingga rakyat Papua tidak lagi percaya kepada Indonesia.

Oleh: Pdt Phil Karl Erari

Hari ini 53 tahun lalu,   (15 Agustus 1952 New YorK Agreement ditandatangani  oleh UN, sebagai bagian dari Resolusi Konflik PBB, agar tidak ada perang terbuka antara Belanda dan Indonesia. Setelah Bung Karno berhasil dengan pidato politik Tri Komando Rakyat (Trikora), di alun alun Jogyakarta, 19 Desember 1961, dan serentak membangun poros Jakarta – Moskow, serta mengiriman pasukan Gerak Cepat (PGT), Brawijaya, Siliwangi, Pattimura dan sukarelawan/wati menuju Irian, menyusul  di tenggelamkannyanya MTB Macan Tutul bersama  Komodor Jos Sudarso, yang tewas temggelam, sebagai pahlawan Nasional di laut Arafura.

Bung Karno telah berhasil menyeret Badan Dunia itu untuk menyaksikan penanda tanganan suatu dokumen historis. Oleh Luns dan Subandrio. New York Agreement dengan Solusi Politik “ACT OF FREE CHOICE”, bagi rakyat Papua, pada tahun 1969, untuk melakukan Hak untuk Menetukan Nasib Sendiri, melalui mekanisme pemilihan One Man, One Vote, sesuai praktek Internasional, ternyata mengalami suatu ” rekayasa” oleh Indonesia, melalui sistem Permusyawaratan Perwakilan, dimana 1025 orang diseleksi untuk memilih ( to select to elect), dibawah tekanan dan, intimidasi. Pepera telah “berhasil” meng “Indonesiakan” Papua.  Rekayasa itu oleh Prof P.J Drooglever disebut sebagai hal yang sangat memalukan, Act of Free Choice was a shame.

Hari ini, kita patut melakukan suatu “renungan Suci”, apakah Pepera 53 tahun lalu, telah “berhasil meng “Indonesiakan Papua”, dan telah memenangkan hati dan pikiran orang Papua? Salah satu hasil nyata Pepera ialah bahwa ribuaan anak anak Papua telah kehilangan orang tuanya, dibunuh dalam suatu perjuangan yang panjang, selama setengah abad. Hasil Pepera juga telah mendatangkan duka bagi banyak keluarga orang Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku dan NTT yang ayahnya, mati terbunuh sebagai sukarelawan atau tentara yang diterjungkan sejak Trikora hingga hari ini.

Indonesia, supaya mengakhiri sejarah panjang yang penuh dengan penderitaan dan kematian itu, secara adil, damai dan bermartabat, bagi orang Papua, juga bagi rakyat dan Pemerintah Indonesia. Pintu Dialog Papua Jakarta, supaya dibuka oleh Presiden Jokowi. Karena apa? Papua sudah berada di Persimpangan Jalan, Papua is on the Cross Road. Dalam buku Freddy Numberi, Quo Vadis Papua, sudah disampaikan pesan kepada bangsa ini, bahwa jalan terbaik bagi Indonesia, ialah kembali berdialog dengan orang Papua, karena Negara telah gagal meng “Indonesiakan” orang Papua, dan negara telah gagal memenangkan hati dan pikiran orang Papua, sehingga rakyat Papua tidak lagi percaya kepada Indonesia.

311total visits,2visits today

Leave a Response