Now Reading
Mahfud MD,  Usul Naik Motor Sendiri-Sendiri
0

Mahfud MD,  Usul Naik Motor Sendiri-Sendiri

by adminAugust 16, 2018

Mahfud MD,  Usul Naik Motor Sendiri-Sendiri

Gus Dur pernah memanggilnya untuk dijadikan Menteri Pertahanan RI.  Dia bingung. Setelah pertemuan terakhir di sebuah seminar di Kampus UII Jogjakarta 16 tahun sebelumnya, Gus Dur masih ingat dirinya,  bukan saja ingat tapi memanggilnya bahkan,  menjadikannya seorang menteri. Terlebih heran lagi menteri yang ia merasa tak ada hubungannya dengan humum sebagai bidang keahliannnya yakni: menteri pertahanan.

Semuanya tak harus seperti logika orang banyak. Mahfud tak yakin dan bertanya kepada Gus Dur.

“Gus apa saya tidak salah dengar. Yang Gus Dur maksud mungkin menteri pertanahan?”

Mahfud pikir kalau pertanahan masih ada kaitan dengan hukum agraria. Tapi militer,  apa yang dia tahu dari dunia kemiliteran. Urutan pangkat tentara dari Kopral sampai Jenderal saja dia tak hafal.

Gus Dur melampaui Mahfud. Gus Dur ingin TNI yang sangat penting bagi bangsa ini memiliki UU nya yang jelsa seperti bidang lain. Jangan hanya diseret-seret jadi kepentingan siapa yang berkuasa. Dalam kurun yang panjang kondisi ini bahaya: habis lah Indonesia ketika rakyat berhadap-hadapan dengan TNI. Untuk supaya tidak diperalat oleh  kepentingan penguasa rezim,  ia harus diatur perundang-undangan. Untuk itulah Mahfud dipanggil dan dijadikan Menteri Pertahanan. Yang kedua,  pertahanan negeri ini bukan hanya tanggung jawab TNI saja tapi,  tanggung jawab segenap lapisan bangsa.

Dari sisi keormasan Islam Mahfud unik. Ia NU rasa Muhammadiyah. Atau Muhammadiyah rasa NU. Logika hukunnya sahih. Argumentasinya runut. Keluguannya jujur dan kejujurannya kadang lugu. Tentang kegagalannya menjadi Cawapres Jokowi logikanya dan logika orang banyak menyimpulkan: Jokowi memilihnya tapi partai tak memilihnya.

Disinilah pentingnya berpikir dengan kaidah filsafat. Bahwa sesunghuhnya Jokowi tidak memilihnya. Bahwa pilihan adalah pemilih.

Santri Kalong: Kalau pilihan adalah pemilih, berarti Mahfud bukan pililihan Jokowi untuk jadi Cawapres.

Kang Mat: Kesalahan Mahfud adalah tidak mengiyakan goncengan satu motor di belakang Jokowi tapi ia berpikir mengendarai motor masing-masing. Karena itulah Jokowi tidak memilihnya jadi Cawapres. Tapi bukan berarti tak memilih di jabatan lain. Bisa saja Jokowi memakainya sebagai menteri dengan pertimbangan ingin membenahi tatanan perundang-undangan kita. Rakyat memang senang dengan yang blak-blakan tapi kekuasaan kurang nyaman dengan yang ‘telanjang’.  Dalam kepribadian dirinya ada yang seperti Rizal Ramli. Mulutnya tak bisa berhenti bicara. Sedangkan Jokowi mementingkan harmoni Sepi Ing Omong Rame ing Gawe. Saatnya kerja, bukan saatnya Gaduh. Biar yang bagian bicara adalah orang-orang seperti Ngabalim saja yang talentanya memang dalam soal bicara. Kerja itulah bicara yang lebih berbobot dari bicara verbal.

Santri Kalong: Jadi Kiai Ma’ruf Amin bukan dipilih karena tekanan?

Kang Mat: Pak Jokowi bukan orang yang bisa ditekan. Jika dia orang seperti itu, dalam kebijakannya dia tidak akan cari masalah dengan mafia. Dia tidak akan membangun infrastruktur Nasional gila-gilaan. Tidak akan menolak KKN, menahan keluarganya dari main proyek.

Santri Kalong : Apa nilai khusus Pak Ma’ruf Amin  ?

Kang Mat : Dia cicit Habib Nawawi Al Bantani,  ulama internasional keturunan Nabi. Sama dengan Habib Salim Segaf. Dia tokoh NU yang bisa merangkul umat Islam Infonesia. Dia pejuang pembela NKRI yang tak kenal lelah dan tak kenal waktu. Tujuh juta umat pernah begerak memenuhi Monas atas dasar fatwa yang ditandatanganinya. Tapi dia juga yang menengok Pak Ahok beberapa kali di Mako Brimob. Dia frofesor yang keilmuannya tinggi. Tokoh zig-zag. Jarang orang bisa melakukan peran seperi di posisinya. Dia Kiai yang hebat.

Angkringan Filsafat Pancasila

236total visits,1visits today

Leave a Response