Now Reading
Ek Owakumii, Timba Keluar
0

Ek Owakumii, Timba Keluar

by adminAugust 14, 2018

E’ Ko, Wai

Oleh Engelbertus Pr Degey

Ipar-ipar yang hadir tanpa kita undang, biasanya membawa banyak berkah. Termasuk “Kedei bokee”. Bisa kita terGaditai kalau kita kurang Edouw, Egai, Ek owakumii”.

Dalam bahasa Mee, kadang saya bingun soal kalimat terakhir diatas. Jelas dari kata Ekowai. Tapi karena dua teman didepan, dari kata Dou Gay Ekowai berubah ke kata sifat, maka, pembedahan Ekowai menjadi multi tafsir. Ekowai (kerja), Eko (sampah) Owai (timba), E ko’ (ah bukan), Oo wai (timba dengan dia). Lalu owakumi? Boleh ditafsirkan, timbah keluar, mungkin sampah atau air kotor sehingga disiram keluar. Dibuang.

Intinya, ekowai adalah, bersihkan sampah agar bersih.

Sampah adalah kotoran yang dibuang. Sudah dipakai lalu buang.

Ekowai Dimii adalah salah satu ajaran paling dasar orang Mee. Kabomana. Harus kerja, entah dimanapun anda berada, dalam kondisi apapun, agar pikiran sehat, hati tenang, bisa makan. Tanpa kerja, ujungnya adalah tidak puas. Makan nasi satu drum pun, tak akan kenyang. Karena anda makan tanpa sumbang apa apa dalam proses menjadi santapan. Makanya, Ekoway dimii adalah ajaran dasar dan identitas orang Mee yang cintah sampah, tanah dan lumpur, batu, pohon, lembah dan hutan.

Nah sekarang masalahnya adalah, dibalik kepolosan dan kerajinan kita, ada yang sengaja datang buang buang sampah alias kotoran didepan rumah kita agar kita tolong buang. Kan budaya kita, budaya kerja. Jelas kita akan tolong buang. Lebih sadis lagi kalau, sampah itu menjadi jebakan, agar justru kitalah yang menjadi sampah lalu, kitanya yang dibuang ke sampah. “Bokeida gaditai”.

Anak Mee adalah anak pintar. Generasi yang tangguh. Kita memiliki semangat hidup dengan prinsip berfalsafah. Beda dengan suku lain, jarang berfilosofis dalam tutur dan karya. Gay, adalah kunci bagi orang Mee. Jangan heran bila lewat hasil karya zugemberg ini kita berfilosofis.

Sungguh bangga melihat dinamika hidup. Sebelum kabupaten hadir, 96, 97, 98, 99 saya bertemu Canon Manansang bapa mama, Lamba, Malondong. Di Bomomani, La Ami, La Maris, polisi Budi su pindah ke Jakarta, dan guru-guru. Termasuk ayahnya ibu Damiana, mantuku. Mereka ada disana karena mengabdi, guru. Kebodohan Eko owakuminee. Kemiskinan Eko owakuminee. Kematian Eko owakuminee. Tapi seperti saya ini, kaki tangan saya sungguh sangat berat untuk “Eko owakuminee”. Hanya tau kunya, tinggal lepas dimana.

Ekowai tetap multi tafsir. Eko, nama orang. Kowai, merasakakan penderitaan. Owaa, rumah jabatan misalnya. Wai, ambil rotan di hutan. Uku, ikatan. Ukumine, bisa menjadi bakaran. Mine, biasa kasih. Mine mine, kasih kasih terus. Kapan baro Teminii.

Dalam falsafah Owai dan Wudii, orang yang bagi biasanya tidak dapat apa-apa. Dia puas kalau orang lain kenyang, sehat dan pintar. Dalam sejarah budaya kita, tugas sudah dibagi. Bangun rumah, siapkan Rumah fondasi dan rangka bangunan oleh Madow Tuma. Kakowai, Dinding dan Papan oleh Bahoo Tumaa. Masak dan bagi makan oleh Maneta Tumaa seperti Boma Wakei Petege. Memang benar. Kalau Tinena Bomaa yang bagi, semua orang puas. Dapat daging secuilpun puas.

Madow Tumaa, Bahoo Tumaa dan Maneta Tumaa ini tidak ada dalam sejarah hidup lembah ke timur. Di wilayah Gey, hanya diketahui empat tuma itu saja. Ular, Batu, Kuskus dan Tanah. Kalau di Mapia ditambah tiga diatas, Telaga, Pisang dan Dapur. Di Mapia pun ada istilah Iboone dan Tideene. Jalur doa ke Tuhan. Tidak sembarang bicara dengan Tuhan. Harus pakai birokrasi adat yang adat.

Kita semua tidak tau, sejarah antara Ular dan Telega, antar batu dan pisang, dan lain lain. Silakan cari tau sendiri.

Selamat merayakan hari kemerdekaan bangsa Indonesia. 😊

200total visits,2visits today

Leave a Response