Now Reading
Mimpi Besar: Modio Areal Bersejarah dan Berziarah
0

Oleh : Biru Kira*

Ada dua tujuan mengapa hal ini dituliskan disini. Pertama, sebagai dokumen bagi para pastor yang nanti akan bertugas menggantikan kami di Paroki Modio. Dengan adanya dokumen ini, para pengganti bisa tetap melanjutkan hal dan mimpi yang sama, yakni menjadikan Paroki Modio sebagai areal bersejarah dan berziarah. Kedua, sebagai sarana sosialisasi kepada para pembaca, secara khusus tim pastoral yang ada di dalam Gereja Katolik. Ternyata kita memili

ki tempat sejarah yang kiranya cocok dijadikan sebagai tempat berziarah.

Latar Belakang Mimpi Besar

Kata ‘kami’ mengacu kepada umat di Paroki Modio. Penulis berusaha menuliskan apa yang menjadi pikiran umat kami. Mimpi Besar kami adalah menjadikan Paroki Modio sebagai areal bersejarah dan berziarah. Ada tiga hal yang melatarbelakangi mimpi ini. Pertama, keprihatinan yang terjadi di tempat-tempat seperti Enarotali, Waghete, Moanemani, dan tak lama lagi Bomomani. Tempat-tempat tersebut adalah daerah pedalaman Suku Mee yang sekarang tak lagi nyaman bagi Orang Setempat (Suku Mee) dan kiranya juga bagi Gereja. Mengapa? Tempat-tempat itu telah berubah menjadi kota, dimana para pendatang, apalagi yang berbeda agama telah bertambah dan kelihatannya mendominasi beberapa bidang tertentu. Bahkan dalam pandangan secara halus, beberapa dari antara mereka yang datang ini telah bersikap arogan di tanah yang telah dikelola sebelumnya oleh penduduk setempat. Tempat-tempat itu juga telah ditandai dengan merebaknya militerisme, yakni bertambahnya jumlah para pemegang senjata dan pengambilalihan beberapa sarana dan fasilitas yang seharusnya diserahkan kepada masyarakat melalui pemerintah setempat. Kehadiran militer dan aparat seringkali, dari kacamata umat, diboncengi oleh para pendatang (pedagang dan pengajar agama lain) yang kadang merugikan masyarakat setempat. Kami yang masih ada di daerah terisolir, kampung-kampung yang bercorak Papua dan Kristen, ingin menjaga tempat kami tetap nyaman ditinggali tanpa harus menutup diri terhadap perubahan. Baik untuk ditekankan pada awal, bahwa kami tidak berusaha menolak perubahan, namun mendistribusikan keadilan dengan lebih baik. Hal ini tentunya selaras dengan semangat otonomi khusus. Mengangkat dan mempertahankan keistimewaan dan keunikan Papua. Apa yang telah dialami masyarakat di Aceh, Yogyakarta, dan Bali, kiranya juga pantas untuk dialami oleh masyarakat di Tanah Papua. Hanya dengan menjadi ‘istimewa’, kami terhindar dari eksploitasi akan alam, budaya, dan manusia yang berlebihan.

Kedua, kerinduan cukup banyak orang, tidak hanya dari Paroki Modio, tetapi juga Mapia, Deiyai, dan Paniai, yang menghendaki bahwa Gereja Katolik perlu memiliki “Pulau Mansinam nya” sendiri. Sebuah tempat sejarah yang sekaligus tempat berziarah bagi umat katolik dan terbuka pula bagi umat beragama lain, dikarenakan dengan demikian selain menjadi areal bersejarah dan berziarah, Modio juga menjadi Kampung Wisata Rohani.

Ketiga, sejarah Kampung Modio sebagai pintu masuk agama dan peradaban dari pesisir selatan menuju ke daerah Pegunungan Tengah. Bapa Auki dan teman-teman telah mencari, menemukan, dan membawa misionaris dan pemerintah kolonial ke daerah gunung yang saat itu masih tertutup. Dari Modio lah, agama dan peradaban baru ini menyebar ke daerah pegunungan lain. Di Paroki Modio lah Misa pertama kali di daerah Meuwo diadakan. Injil diperkenalkan oleh Pater Tillemans kepada Bapa Auki dan Orang Modio. Di tempat ini juga Para Tonawi dari Meuwo berkumpul dan mengadakan doa adat perdamaian bersama Pater Tillemans; dan mulai dari tempat ini juga Bapa Auki mulai berperan sebagai guru agama bagi orang-orang di sekitarnya. Babak baru dari peradaban dan agama Kristen dimulai di Pegunungan Tengah.

Sejarah Mimpi Besar

Adalah bukan kebetulan penulis ditempatkan di Paroki Modio sebagai pastor paroki. Mgr. John Philip Saklil telah memikirkan cukup lama untuk memeriksa sejarah di daerah Mapia, khususnya yang berbatasan langsung dengan daerah Kamoro (Kokonau, Pronggo, dan Atuka) sebagai daerah misi katolik pertama. Penulis mulai masuk Modio pada tanggal 18 Februari 2015 (Rabu Abu). Tidak lama tinggal di Modio penulis menemukan tulisan-tulisan terkait Auki serta pembicaraan-pembicaraan terkait tokoh pembawa terang bagi masyarakat koteka. Hal ini semakin dipertegas dengan pembicaraan dengan Bapak Hengky Kegou, yang mengusulkan untuk meneliti soal Auki dan sejarahnya. Ternyata dikemudian hari, penulis mengetahui bahwa Bapak Hengky Kegou adalah salah satu dari cucu Auki.

Wacana tentang Auki ini membuka mata penulis akan kemungkinan mengangkat satu tokoh asli Papua sebagai tokoh yang diakui Gereja. Kisah Auki adalah peluang bagi umat kami dan masyarakat setempat untuk memiliki teladan dan sumber inspirasi. Sekaligus hal ini juga akan mengangkat harga diri umat kami dan orang setempat. Mengapa pikiran itu muncul? Kelihatannya saat itu penulis merasa cukup terganggu dengan situasi pembodohan dan diskriminasi yang dilakukan terhadap Orang Setempat. Wacana berlanjut dan penulis mulai mencari-cari informasi dan kemungkinan itu. Semua orang tahu mengenai Auki, namun tidak serta merta membuka semuanya. Butuh waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya, dalam satu kesempatan, penulis berhasil, dengan bantuan Yermias Degei berkumpul dengan para tokoh intelektual Modio/Mapia di Nabire. Hal itu terjadi di sebuah Café di Nabire pada pertengahan tahun 2015. Sesudah presentasi mengenai keinginan penulis, ternyata keinginan ini juga sudah ada pada mereka yang hadir saat itu. Sudah ada usaha-usaha untuk mengangkat Kisah dan Sejarah Auki ini. Hasil dari pertemuan adalah rekomendasi dari para tokoh Mapia kepada umat di Modio, yang kemudian kami bawa ke dalam rapat bersama dewan paroki dan tokoh-tokoh masyarakat Paroki Modio. Semua sependapat dan mendukung.

Kebetulan pada tahun 2015, Bapa Uskup Timika dijadwalkan untuk berkunjung ke Modio pada bulan Oktober. Dewan Paroki mempersiapkan acara peletakan batu pertama pastoran baru. Bagi penulis, kunjungan Bapa Uskup adalah kesempatan baik untuk menyisipkan acara yang mungkin akan menimbulkan pro kontra namun mendesak untuk segera dibuat, yakni penetapan tokoh Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja Katolik. Dalam hati, penulis yakin bahwa Bapa Uskup akan mendukung usaha ini. Memang, demikian adanya. Pembicaraan dengan Mgr. John yang sudah mendengar sejak lama dan senior kami, Pater Amandus Rahadat yang juga sering mendengar kisah Auki dari Pater Smith semakin meyakinkan penulis bahwa acara itu perlu dibuat. Dengan dukungan para tokoh intelektual Mapia, Umat di Modio, Keluarga dan keturunan Auki yang diwakili oleh Hengky Kegou (cucu Auki dan timpas Keuskupan), Engelbertus Degei (Cucu Auki dan Kepala Distrik Mapia Tengah), dan Markus Tekege (cucu Auki dan pewarta Modio) maka dipersiapkanlah acara itu.

Proposal untuk acara itu, mohon bantuan dan dukungan dana disebar ke seluruh Meuwo, dan ternyata responnya luar biasa antusias. Banyak umat telah mendengar dan kelihatannya menyimpan dalam hati: “Kapan rencana itu akan dibuat”. Dana-dana mulai mengalir, undangan mulai disebar. Apa yang tadinya menjadi sisipan, yakni Acara penetapan Auki, kini menjadi yang utama. Sebagai sebuah acara simbolis dengan waktu terbatas, kami membuat patung setengah badan Auki yang dibiayai oleh Bapak Engel Degei. Patung ini pada saat acara, akan diserahkan dari keluarga kepada Gereja melalui Bapa Uskup Timika.

Maka terjadilah 18 Oktober 2015 acara Penetapan Auki Tekege sebagai Tokoh Gereja oleh Mgr. John. Acara ini dihadiri oleh banyak timpas (pastor, suster, frater, dll) dan para tokoh serta umat. Saat itu Mgr. John diwawancarai dan ditanya mengenai keinginan umat mencari lokasi ‘Pulau Mansinam’ bagi umat katolik. Bapa Uskup secara diplomatis belum bisa memastikan lokasinya.

Sesudah itu semangat umat terus terpacu dan disituasikan untuk tidak berhenti di tengah jalan. Tanggal 26-27 Desember 2015, ketika Mgr. John merayakan Natal di Paroki Bomomani, kami mengundang beliau untuk Natal Anak-Anak di Modio sekaligus meresmikan dan memberkati Makam Auki dan Jalan Salib Bukit Gokoti, serta Taman Doa Batu Besar. Sesudah itu pada tanggal 29 Januari 2017, sekali lagi kami mengundang Mgr. John dan Isaias Douw untuk hadir dan memberkati tempat doa Batu Besar Tota Maria dan Goa Maria di Touboha. Namun sayang, karena cuaca yang tidak baik, pesawat yang akan mengantar Mgr. John tidak bisa datang. Acara diwakilkan oleh Pater Vikjen, Pater Marthen Kuayo. Kemudian, ketika Mgr. John berkunjung ke Paroki Mauwa/Moanemani, kami sekali lagi mengundang Mgr. John dan Isaias Douw untuk meresmikan dan memberkati Pintu Gerbang tempat masuk sejarah dan ziarah di Stasi Dieyugi pada tanggal 26 Juni 2017.

Di sela-sela kegiatan Mgr. John di Modio, Paroki terus mempersiapkan umat dengan kegiatan lain: Kursus Memasak bagi mama-mama oleh SKB Enarotali (Suster Cons dsy dkk). Dua kali diadakan. Kursus Memasak Umum tanggal 2-7 Agustus 2016 dan Kursus Memasak dengan bahan utama Kacang dan Bawang tanggal 23-27 Agustus 2017. Lalu acara SEKAMI MAPIA dengan tema ‘Sekami Membangun Hidup Devosi’ pada tanggal 9-12 Juli 2017 ; Perintisan Koperasi Noken dan Kopi, dan pembangunan Gereja dan Pastoran di delapan stasi Paroki Modio. Ulang Tahun pertama penetapan Auki dengan memproduksi Album Natal dengan tema “Auki Pembawa Terang”. Kemudian masih juga ada usaha untuk meneliti Sejarah Auki dari Bapak Yermias Degei dan dengan perjalanan Pastor Paroki bersama Kepala Kampung Atou Yohanes Nokuwo ke Pronggo (Kapiraya-Wakia-Wumuka-Wotai-Digiho-Pronggo).

Rencana dalam Waktu Dekat

Sekarang ini, sesudah Pastoran Modio yang baru telah selesai, kami mempersiapkan pembangunan Kapela Auki, pembangunan pagar kompleks Misi (sudah hampir jadi), peresmian pastoran baru dan pemberkatan tempat doa Kring St. Yohanes Pembaptis Gokoti dan tempat doa St. Fransiskus Asisi. Masih dalam kaitan dengan Mimpi Besar, tanggal 27 Agustus 2017, bersama Pater Marthen Kuayo, umat sepakat untuk mengalihkan SMP N 2 Modio menjadi SMP YPPK. Umat dan Pemilik Tanah lebih rela jika lokasi yang ada dijadikan milik umat.

Lalu, pada saat acara peresmian dan pemberkatan Pintu Gerbang di Dieyugi oleh Mgr. John, Mimpi Besar ini semakin mendapat dukungan, khususnya dari Pemerintah Provinsi. Secara khusus, Bapak Yan Ukago dari Provinsi Papua menghadiri acara dengan maksud ke depan merancang rencana pembangunan Modio sebagai Kampung Wisata Rohani. Rencana ini kiranya telah dimasukkan dalam rencana provinsi. Secara langsung Bapak Yan Ukago menyinggung alasan mengapa Modio yang dipilih. Pertama karena sejarahnya. Kedua, karena lokasinya yang masih terisolir dan jauh dari jalan utama di Bomomani. Ketiga, karena letaknya yang ada di antara gunung-gunung.

Semua kegiatan yang akan dilaksanakan kiranya dihubungkan dengan Mimpi Besar: Menjadikan Paroki Modio areal bersejarah dan berziarah.

Detil Mimpi Besar

Rencana Mimpi Besar ini terpusat pada empat hal: 1. Renovasi Makam Auki, 2. Pembangunan Hamewa/Kapela untuk Auki di lokasi tanah Bapak Auki 3. Pembangunan Monumen Pertemuan Para Tonawi Meuwo dengan Pater Tillemans. 4. Areal Misa Pertama Meuwo (25 Desember 1935) yakni di atas Kombas Epoutokotu sekarang. Di sekitar empat titik itu, taman doa/tempat doa di setiap Kombas, goa maria, dan Jalan Salib akan dibangun untuk mendukung wisata rohani. Tempat doa tidak lagi hanya di dalam Gereja, tetapi juga di alam terbuka dimana terdapat mata air dan batu-batu besar serta goa.

Rencananya, untuk membuat detil segala rencana pembangunan dan anggarannya, akan diadakan lokakarya. Diharapkan pada saat itu, wakil keluarga, pemerintah, Gereja, dan para tokoh bisa hadir untuk membuat semacam grand plan.

Harapan Besar Bagi Umat di Pegunungan Tengah

Mimpi Besar ini bagi kami adalah strategi untuk mengantisipasi keprihatinan yang telah disebutkan di atas. Sungguh suatu mujizat jika di Paroki Modio, areal bersejarah dan berziarah ini terbangun, dimana umat katolik, masyarakat setempat sungguh-sungguh bisa berdoa dan hidup dengan aman dan nyaman. Suatu daerah yang sangat katolik dan bercorak Papua dimimpikan terjadi di Mapia. Satu tempat dimana umat berakar pada Injil dan bertumbuh dalam budaya. Suatu tempat dimana perubahan dan para pengunjung yang datang menyesuaikan diri karena melihat monumen dan tempat doa yang ada di areal bersejarah dan berziarah. Perubahan di Tanah Papua seringkali masuk dengan kekerasan dan tidak manusiawi. Kami berharap dengan adanya tempat doa dan umat yang berdoa, perubahan itu datang menyesuaikan dirinya menjadi lebih manusiawi.

Catatan Penting Bagi Umat Katolik di Tanah Papua

Peristiwa pengangkatan Bapa Auki sebagai Tokoh Gereja Katolik di Tanah Papua, kiranya telah mengundang respon-respon positif yang meramaikan wacana. Pembicaraan mengenai Kampung Modio sebagai tempat sejarah dan ziarah bagi masyarakat Mee dan Umat Katolik mulai ramai dibuat. Isu perlindungan dan pengelolaan tanah semakin menjadi prioritas. Pertanyaan mengenai perlunya Gereja mengusulkan kepada Pemerintah Daerah akan Hari Masuknya Gereja Katolik di Tanah Papua semakin kerap terdengar. Belum lama ini juga tersebar surat rekomendasi dari OMK di Paroki St. Yosep Nabire Barat agar Gereja mulai memikirkan sejarah masuknya agama katolik di Tanah Papua ini. Merenungkan sejarah mengajak kita memikirkan masa kini dengan pegangan yang jelas. Maka, sejalan dengan semangat Mimpi Besar ini, kami catat di bawah ini beberapa informasi tanggal yang mungkin bisa kita wacanakan:

1. Bulan Oktober 1892, Mgr. A.C. Claessens melalui surat memberi perintah kepada Pater C. van der Heyden SJ, yang berada di Tual, untuk pergi ke Irian Barat bagian selatan dan disana mencari tempat yang baik untuk didirikan Stasi. Akhir bulan Oktober 1892, P. Van der Heyden SJ mendarat di pantai Irian Barat dan mengunjungi Kampung Selerika atau Sarira, dekat batas Irian Timur.
Tidak adanya tanggal membuat kami harus menelusuri lagi secara detil catatan-catatan sejarah yang ada. Namun, kami mengusulkan: mengingat tanggal 18 Oktober 2015, Uskup Timika mengangkat Bapa Auki (pembawa terang bagi masyarakat koteka) sebagai tokoh Gereja Katolik, maka Hari Misi Katolik masuk di Tanah Papua bisa ditetapkan pada setiap tanggal 18 Oktober.

2. Le Cocq D’armandville tiba di Skroe, Fakfak pada tanggal 22 Mei 1894, dua tahun sesudah Pater van der Heyden di Selerika. Di Skroe, Le Cocq membangun pos misi, membuka asrama dan membaptis anak-anak. Apa yang dilakukan oleh Le Cocq tidak hanya sekedar kunjungan. Ketika membicarakan apa yang menjadi syarat awal perkembangan Gereja di suatu tempat, orang tidak hanya berbicara mengenai kunjungan atau survey; karena jika demikian, maka harus diteliti kembali, pastor-pastor portugis atau spanyol sebelum van der Heyden (Belanda) yang pernah berkunjung ke Tanah Papua. Biasanya orang berbicara mengenai: apakah ada pos misi didirikan di sana, dan apakah ada pembaptisan. Dengan demikian, tanggal kedatangan Le Cocq di Tanah Papua kiranya secara argumentative bisa dijadikan sebagai tanggal masuknya misi katolik pertama kali di Tanah Papua.

3. 25 Desember 1935, Pater Tillemans MSC merayakan Misa di Puncak Gunung Tiho (Modio). Inilah misa pertama kalinya di daerah Pegunungan Tengah.

4. Tanggal 26 Desember 1935, Pater Tillemans dan dr. Bijmler tiba di Modio. Sepuluh hari kemudian, terjadi pertemuan bersejarah antara Pater Tillemans dan dr. Bijmler dengan Para Tokoh-Tokoh dari Meepago dan Migani. Inilah hari bersejarah dimana agama dan peradaban yang telah dibawa masuk diterima oleh Masyarakat di Pegunungan Tengah. Dengan demikian, kami bisa juga mengusulkan tanggal 5 Januari sebagai Hari Masuknya Agama dan Peradaban di Pegunungan Tengah.

Pokok pertama kami usulkan untuk dibicarakan dalam tingkat Gereja Katolik di Tanah Papua. Pokok kedua dan ketiga, kami usulkan untuk didiskusikan dalam tingkat Meepago (Paniai, Deiyai, Dogiyai).

Semoga segala niat baik dan rencana-rencana kita senantiasa terarah kepada Kehendak Tuhan sendiri.

*Pastor Paroki Modio.

397total visits,2visits today

Leave a Response