Now Reading
Zonawi Maruf vs Tonawi Sandiaga Uno
2

Zonawi Maruf vs Tonawi Sandiaga Uno

by adminAugust 12, 2018
Gubernur tak perlu dirujuk pada sejumlah aturan nasional yang cenderung mempermainkan watak aklak di kantor dinas pikiran yang tak layak. Selalu menginginkan kurban bagi baginda koyak. Manusia sebongkah pernah, tak akan membawa serta merta ke akhirat. Itulah tabiat, mempermainkan ayat, membentuk watak komunitas rakyat, memojokan seseorang menuju mayat, mengejar kepentingan sesaat.

Oleh Engelbertus Primus Degey

Kali ini kita tidak bicara Jokowi dan Prabowo. Dua tokoh yang tak pantas bertarung, kanera konotasi bertarung, kedua belah pihak harus emosional, berang dan bila perlu bawa senjata “baku hajar”. Ini tidak. Prabowo berlatar militer berhati super,  dan Jokowi, pengusaha biasa yang ditunjuk Megawati perbaiki negeri ini.

Bila Prabowo menang, jelas dia akan usir 27 perusahaan asing yang sedang melahap kekayaan alam Indonesia. Prabowo akan melihat dengan serius ribuan karyawan Freeport yang dipecat walaupun 51% saham dikuasai Indonesia. Utang-utang luar negeri bisa terlunasi dengan hasil tambang dalam negeri.

Bila Jokowi menang,  jelas dia akan lanjutkan pembangunan listrik dan infrastruktur jalan, juga lapangan terbang. Pengusaha menengah keatas akan terbantu, ekonomi menengah kebawah semakin mundur sekalipun infra jelas berpengaruh bagi tumbuhnya ekonomi keluarga, pendidikan dan juga pelayanan kesehatan.

Nah sekarang,  dibalik Jokowi dan Prabowo, hadir dua nama yang diluar bayangan rakyat Indonesia. Sandiaga Uno dan Amin Ma’ruf.

Mengapa diluar bayangan Indonesia? Karena pengamat Jakarta sekalipun tak menyangka hadirnya dua sosok ini. Keduanya bukan orang partai, bukan pula politikus. Uno memang sudah lama membantu partai, pengusaha sukses dan sekarang mampu berpengaruh membangkitkan usaha mikro. Ma’ruf, ulama bijak dan pengembang ekonomi syariah Islam. Bukan juga orang partai, tapi Jokowi langsung pilih Ketuanya Nu, bukan ketua PKB, Muhaimin. Apalagi si Madura, Mahfud MD yang dulunya pernah menjadi Ketua Tim Sukses Prabowo.

Kembali ke judul, Zonawi atau Tonawi. Sosok pemimpin pedalaman Papua, muncul tanpa pemilihan, tak bayar bayar agar dipilih, Toka Nota Mee,  bukan pula dari kalangan partai,  tapi gelar itu didapatinya karena usahanya dalam masyarakat. Bijak, punya kekayaan dengan jerih payah, bukan karena korupsi. Ia juga mampu selesaikan berbagai persoalan dengan adil dan hijaksana. Bukan dengan senjata dan bedil. Model pemimpin  Achieved Status inilah yang dipilih Prabowo dan Jokowi untuk Uno dan Ma’ruf.

Ketika media umumkan wakil Jokowi berinisial M, orang Papua tak pernah terbersit, M itu Makbon, Mandosir,  Meosido, Mansawan, Muabuay, Magay, Mote, Maniagasi,  Marthen Mote di pasar Oyehe Nabire atau Manurung di Batak, Mahfud dari Madura. Jokowi memilih jantung bangsa Indonesia, Nu, yang selama ini menjaga pluralisme dan demokrasi Pancasila. Gus Dur. Jokowi juga tidak memilih dari partai yang sering bawa-bawa diri, angkat-angkat jari. Sifat sifat anti Tonawi, Toka Nota Mee.

Budaya memilih model inilah yang diinginkan Tuhan sejak nabi Adam. Itulah nilai hakiki Tonawi, sifat asali Tuhan yang kemudian dimanifestasikan dalam Pancasila. Perwujudan sila pertama, keTuhan yang Maha Esa  tak pernah memilih engkau turunan istri pertama atau istri kedelapan. Isak atau Ismail. Orang Papua atau suku Dayak. Tuhan lebih memilih hatinya, seperti ketika memilih Nuh yang tak bercela, Daud yang polos, Abraham yang tahan uji, Adam yang tergoda namun diampuni oleh darah Yesus. Namun sifat defensif singa, harimau, kobra, mental yang teguh, tak cepat terpengaruh adalah pilihan lain yang tersirat, tapi ada.

Sifat asali Pancasila sila pertama adalah bukan karena bangsa ini tidak menghargai birokrasi yang terlalu rumit. Tetapi lebih pada hati yang telah  nampak dalam sejarah,  benar atau ‘nda. Bukan karena berasal dari salah satu agama atau salah satu suku saja. Itulah yang diilhami BPUPKI.

Bicara ideologi, sekarang sudah finish. Stok sudah habis. Tugas kita adalah bagaimana memilih pemimpin tanpa partai dan terutama tanpa uang. Bagaimana partai semakin cerdas menentukan calon pemimpin. Seperti di lambang banten,  dan PKB Paniai. Semua sudah ada dalam budaya kearifan lokal, diajarkan orang tua, tinggal dipetik, bila mau menang.

Pertandingan RI 1 hari ini adalah perang harga diri Merah Putih dengan bangsa lain. Apakah bangsa ini berani mengusir bangsa lain yang datang mencuri kekayaan alam Indonesia atau justru meneruskan, mempertahankan mereka mencuri hasil tambang Indonesia seenaknya. Setelah itu,  cuma segelintir orang saja yang menikmati ongkos satpamnya. Kadang dikelabui dengan sandiwara Polri versus KPK, Bom bunuh diri atau bentuk lain. Media mengarah kesana, bukan ke Timika.

Mari kita berdoa, agar sistem Tonawi mulai muncul di wajah pemimpin nasional. Budaya Tonawi adalah bentuk lain Satria piningit yang akan muncul bersama kebosanan yang meningkat.  75% sudah tumbuh di dada Prabowo dan 87% di kertas coretan Jokowi ketika memilih  Ma’ruf. Kita semua berharap, tindakan pemimpin kita selanjutnya adalah usir bangsa asin dari negeri ini selamanya, agar rakyat bisa rasakan nikmatnya Pancasila diatas alam kekayaannya.

Kami dari Timur, justru hanya menginginkan agar Satria Piningit itu bukan mau melanjutkan peperangan. Seenaknya perintahkan pasukan pegang pegang senjata ditengah rakyat. Saatnya pedang dan senapan dilebur menjadi parang dan skop, gali tambang sendiri. Saatnya piningit gigit telinga setiap pemimpin, agar membangun negeri dengan adil dan bijak. Bukan secara sistematis korupsi dana daerah, bersama akuntan yang menjadi konsultan, lingkage bersama Badan Pemeriksa Keuangan, curi dana rakyat secarah sistematis, berjemaah dan terencana.

Bolehkah delapan Tonawi maju gubernur? Siapa tonawi: pengusaha? Petani sayur? Peternak babi? Orang partai? Lsm atau lma? Bagaimana KPU menetapkan tata tertib? Model pemilahan Amerika? Main tunjuk? Entah,  andapun anak adat, mari kita cari bersama

Anda dan saya adalah sebongkah pernah, patung yang tidak pernah hargai sistem noken atau ikat. Atau memilih tunjuk tunjuk jari anak sekolah (one man one vote), atau kirim kirim surat cinta di TPS, ibarat di jaman SMP SMA, jaman dulu.

Nilai-nilai refleksi adat telah melembaga dalam Majelis rakyat Papua; Lapago,  Meepago, Domberai,  Bomberai dan Animha. Lengkap sudah sayap sayap budaya kita. Harga diri,  eksistensi yang jangan pernah runtuh,  sekalipun dihadang badai modernisasi. Syukur anda dan saya gantung gantung noken usulan Titus Pekey. Syukur pula, ada kita punya wakil rakyat, John NR Gobay yang bertindak nyata jaga alam dan adat tanah Papua.

Gubernur tak perlu dirujuk pada sejumlah aturan nasional yang cenderung mempermainkan watak  aklak di kantor dinas pikiran yang tak layak. Selalu menginginkan kurban bagi baginda koyak. Manusia sebongkah pernah, tak akan membawa serta merta ke akhirat. Itulah tabiat,  mempermainkan ayat, membentuk watak komunitas rakyat, memojokan seseorang menuju mayat, mengejar kepentingan sesaat.

Wespetelem,  epos menik, kumbu tumbu alam. Wakau makau, kunu bega, dega peda nutuu nutuu. Aki oma modoo, pote baa.

Seniman dan Budayawan Papua.

357total visits,1visits today

2 Comments

Leave a Response