Now Reading
Mama-Mama Amber (2)
0

Mama-Mama Amber (2)

by adminJuly 27, 2018

Halaman 4, Mini Marwan masih menulis kisahnya waktu sekolah dasar. Kali ini ia angkat kisah temannya Gerson Tipagau dari Uwadio gunung hendak kesekolah dengan guru sejarahnya, Petrus Dumatubun.

Gerson ialah anak kepala batu, tidak mau teman lain maju. Ia egois dan maunya menang sendiri. Sering menghalangi niat baik teman dan merampas sekalipun bukan miliknya. Ia bahkan punya niat jahat untuk memukuli teman sampai babak belur. Sering ia lakukan dan berkali-kali ditegur warga,  namun tara bisa bertobat.

Suatu pagi,  Gerson dan guru Petrus sudah bangun sejak pagi. Bersiap-siap menuju sekolah. Rumah mereka disebelah bukit. Usai siap,  berdua beranjak ke sekolah. Digunung sebelah,  di rumahnya Sopir Maday,  Toa sudah picah. Terdengar kencang lagu Iwan Fals. “Seperti kemarin, kau hanya lemparkan senyum, lewat begitu saja bagai pesawat tempur..  Penguasa-Penguasa,  berilah hambamu…. “, berkali-kali dan berturut-turut.

“Asyik lagunya”, ujar Gerson sambil goyangkan badan. “Asyik musiknya,  tapi artinya memohon”, urai Petrus. “ih pak guru iyo e”, Gerson akui-akui.  Lalu guru Petrus jelaskan:  “Seadainya bila kupunya uang, kubeli guitar Italia, kugantung dan kumain sambil bernyanyi: anakku cepatlah pulang, bapa sendiri, negeri ini akan diambil orang. Bangun berdiri, bikin pagar. Tak muncul,  Italia kubanting, kubuang jauh,  kuganti seruling, kusiul hingga huruf s tak terdengar lagi dari mulut”.

“Lagu sadis juga”, tanya Gerson.

“Hahaha koi ni”, Petrus ketawa sambil pegang Gerson pu kepala.

Susah juga dapat produk sendiri: mahal,  rewel, cerewet, perusak seperti babi,  hume hume dan banyak yang tak berhasil dalam kompetisi apapun. Makanya orang lebih memilih Natalia dari Italia.

Mereka berpegang teguh pada ajaran.  Terutama syariat-syariatnya. Doa lima waktu dan selalu taro Tuhan di dahi mereka.  Sadar betul bahwa mempertahankan hidup ini sungguh sangat susah. Segala sesuatu harus sudah bersih mulai dari sendal yang dipakai hingga baju. Ia sadar kalau bajunya sudah apik dan cantik,  pasti dan yakin,  baju suami dan anak akan selalu bersih. Lalu,  mereka hidup dimana?  Dalam buku setebal jempol 10cm itu,  mereka hidup didalam rumah 3×4 meter.  Suami beli tanah 5×5, diatas itu dibangun kios, sisah tanah utk taro motor dan drum bensin.

Itu masih. Istri tak pernah mengeluh sekalipun hidup dipinggir sampah,  bau tak sedap, diujung pelataran tokoh. Pusat kota, kumuh. Istri tetap setia membangun keluarga,  asri dan bersahaja. Sering-sering air danau meluap,  tak masalah. Yang penting bantal dan selimut selamat,  bisa numpang di ketua RT.  Mereka hidup tak mengukur gunung ini hingga gunung yang sana. Jaman kepala suku dan tanah adat, sudah berlalu,  bahkan tertinggal di tanah asalnya. Disini, hanya ada dinding ini, dipegang ada atap daun senk, barang kios dan beras.  Cukup. Lama-lama,  kubidik pemilik lokasi, ikuti semua masalah dan keluhan, tanah diselesaikan diatas meterai. Proses tak perlu diketahui saudaranya,  cukup berdua, sekecap dan kilat. Dalam hati,  suatu saat,  engkau akan ngekos disini. Hari ini kubeli tanahmu dengan 30perak, tetapi suatu saat engkau akan bayar aku setelah 30 hari, alias setiap bulan.

Doakan seseorang dengan nasehat dan hikmat. Bukan dengan pujian dan eluhan. Bila perlu, ejek dan cemooh dia agar dia berbuat yang lebih baik lagi. Dengan demikian dia tidak merasa melebihi dan dikurangi,  tetapi ia merasa ada disekitar sesamanya dan selalu ingin mengubah hidupnya dan tetangganya.

278total visits,1visits today

Leave a Response