Now Reading
Mama-Mama Amber (1)
0

Mama-Mama Amber (1)

by adminJuly 27, 2018

Potret hidup mereka tak banyak dipantau dunia kampus,  khususnya di negeri-negeri perantauan. Tak banyak abstraksi ilmiah merangkum kesetian seorang mama amber membangun ekonomi keluarga. Setia, “anti harta”, mencintai hal-hal kecil dan sederhana,   jatuh bangun bersama suami dan pintar kelolah berbagai masalah, termasuk keuangan.  Ini kisah nyata Dra Mini Marwan yang bermimpi menjadi guru besar gelar dobel, pulang kampung menjadi juru bayar bandar togel. Lalu menuliskan kisah orang tuanya,  dalam bukunya “Mama-Mama Amber”. Bukunya sudah tarabik di jalan, hanya tertinggal beberapa lembar.

Tetangganya kaya, punya harta dan tanah trans yang luas. Magiono? namanya. Sapinya 56 ekor. Belum terhitung kambing. Keluarga Mini, hidupnya sederhana. Mamanya pelihara kambing tak sedikit pula. Kaka mertua buka warung Sate Kambing di kota. Hampir semua kambing disembeli menjadi Gule, Sate hingga jual anakan kambing.

Setiap pagi mamanya lepaskan Kambing dan sapi ke areal berpagar itu. Rutin dan detail. Waktu siang, ia bertani, tanam sayur, petcai, rica, bawang dan bombai. Lokasi sisa yang disediakan pemerintah saat bagi tanah trans, ia tanam tanaman berjangka panjang, sebagian rambutan dan coklat.

Mini masih kecil, dan buku berkover hijau itu,  ia gambarkan betapa beratnya ia selesaikan SD,  SMP,  dan SMA dengan dukungan orang tua yang pas-pasan. Syukur,  kuliah, ia bisa selesaikan dengan beasiswa PT Freeport. Lamar pekerjaan, tak pernah lolos, tes CPNS, sudah online. Orang daerah banyak yang tak lolos. Mini tinggal di Nabire. Lahir besar di sp3 Wanggar, dan masuk dalam kategori Lahir Besar Papua,  LABEPA.

Ia memulai kisahnya dari pinggir Warung Prancis Fatahilah Kolonye, dan resensinya kami muat disini,  di warung Pojok Falsafah Touye. Disitu sejumlah biksu tak berucap,  menikmati teh bukan dari rumahnya. Hadir tapi tak mencolek. Lalu pergi bak pencuri, kastinggal kain berbunga anggrek. Setiap siang tak terasa, memotret hidup dengan kaca ambigu: disini selalu ada. Ketika sumbangan semakin sunyi, iapun pura-pura mengajak jiwa putra bangsa, kaget ketika seluruh hidup dan waktu ini terbuang di meja makan, khayali jabatan dan kedudukan tinggi-tunggi. Sok tau didepan mama amber,  bicara politik, jabatan dan kekuasaan. Mama itu hanya berkata dalam hati: Otak min. Tara tau bantu mama ke kebun, apalagi hormati orang lain yang setiap hari banting tulang bekerja di kebun jagung. Pulang sore,  pukul mama,  minta makan. Tak beda jauh dengan kelakuan ayahnya.

Mini Marwan ialah sarjana ekonomi. Memahami betul arus fluktuasi harga barang di pusaran regional. Di  halaman delapan,  chapter empat alinea dua, ia menulis: “Mama-mama ini tabah dan tekun berdoa. Sedikit aisedo,  lipstik merah alis coklat,  bikin suami bangga, semangat dalam bekerja dan cepat pulang. Mereka jarang facebook,  kecuali ketika berdandan Jilbab.  Mereka jaga kios siang malam,  tunggu 1000. Ban roda berputar melewati depan kios,  tinggalkan debu dan bau solar.  Malas tau.  Kios itu dipinggiran kota, 3×4. Didepan kios,  ludah pinang berserakan.  Tebal diatas semen 20 cm.  Tempat umum dan jarang dibersihkan. Tak ada tong sampah dan hampir kumuh. Bau tak sedap,  tapi keluarga itu tetap bertahan di kios itu. Mau kemana? Tahun depan,  aku lewat,  sudah berubah. Bangunan kios itu sudah dua tingkat. Orang tambah ramei, ludah pinang sama, ramei”.

Dihalaman berikut,  Mini menulis soal doa harian.  Orang-orang ini tekun dalam hal berdoa; dengan berdoa, seseorang dapat membersihkan jiwa, sejukkan hati dan ringankan beban. Doa dapat menyembuhkan luka batin, kembalikan tenaga. Doa juga sekaligus memasukkan Tuhan di dahi agar kemana-mana Tuhan tetap memimpin. (bersambung)

106total visits,1visits today

Leave a Response