Now Reading
Penyadapan: Rakya Syuber
0

Penyadapan: Rakya Syuber

by adminJuly 26, 2018

PENYADAPAN telepon yang dilakukan Australia terhadap 10 Pejabat Indonesia merupakan sebuah bahaya yang hendaknya menjadi perhatian serius. Selain merasa malu, karena percakapannya “didengarin” orang, sejumlah info strategis rahasia Indonesia sudah diketahui Australia.

Peristiwa semacam ini oleh orang tua Biak dalam kata-kata bijak (Wos Sinan) disebut “Rakya Syuber”, yang berarti “Bahaya Akan Tiba”. Sebuah kata nasehat orang tua kepada anak-anaknya agar berhati-hati dalam menghadapi situasi yang merumit. Orang tua sudah tahu, jikalau rahasia dalam negeri sudah diketahui musuh, maka jelas-jelas, musuh akan masuk lewat informasi itu.

Lalu, bahaya apa yang akan tiba? Pertama adalah soal kedaulatan bangsa. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar, bukan lagi menjadi bangsa inferior dan seenaknya diintai bangsa lain. Kedua, pengintaian dalam bentuk apapun sudah melanggar Konferensi di Wina 1961. Dimana setiap bangsa di dunia saling menghargai hak-hak fundamental.

Terus, mengapa Australia menyadap Indonesia?

Pertanyaan inilah yang dicoba dijawab oleh sejumlah pengamat, walau sampai sekarang belum diketahui pasti mengapa Indonesia disadap teman baiknya itu. Perlu diketahui bahwa hubungan Australia dengan Indonesia sejak dulu baik dan harmonis. Nah, kalau sudah bagus, mengapa Australia menyadap Indonesia? Tentu Indonesia kaget. Karena ternyata teman baik itu punya muka dua. “Ada dusta diantara Indonesia dan Australia”.

10 orang yang disadap pun bukan orang sembarang. Mulai dari Presiden Republik Indonesia  Susilo Bambang Yudhoyono (jenis ponsel Nokia E90-1), Kristiani Herawati (Ani Yudhoyono) (jenis ponsel Nokia E90-1), Wapres Boediono (jenis ponsel Blacberry Bold (9000), mantan Wapres  Jusuf Kalla (jenis ponsel Samsung SGH-Z370), juru bicara luar negeri Dino Pati Djalal (jenis ponsel Blackberry Bold (9000), jubir Pres dalam negeri Andi Mallarangeng (jenis ponsel Nokia E71-1), Mensesneg Hatta Rajasa, Sri Mulyani Indrawati, Widodo Adi Sucipto (Menko Polkam), dan Sofyan Djalil (Menteri Komunikasi dan Informatika), jenis ponsel Nokia E90-1.

Kok bisa ya. Ya memang begitulah jadinya. Padahal selama ini kita ketehui, Australia berjuang keras gandeng Indonesia sebagai teman lamanya untuk hadang laju pertumbuhan dan penguasaan ekonomi China terhadap Asia, Australia dan Pasifik.  Dibelakang Australia berdirilah Amerika Serikat yang memang nyata-nyata tidak mau China dan Korea menguasai ekonomi di wilayah Pasifik.

Dari alasan penguasaan ekonomi ini, patut diduga Australia melakukan penyadapan terhadap pembicaraan sejumlah tokoh penting di Indonesia. Australia mungkin mau mengetahui seberapa besar strategi Indonesia untuk memproteksi pasar global dan sumber daya alam yang berada di wilayah kesatuan Republik Indonesia.

Kita harus  tahu dan mulai sadar bahwa, pertumbuhan penduduk yang tinggi, kekayaan sumber daya alam yang semakin tipis mendorong manusia, terutama bangsa-bangsa kapitalis (Australia dan Amerika Serikat | China dan Korea) mulai mencari dan menguasai daerah-daerah baru yang luas dan memiliki kekayaan tambang yang melimpah. Daerah Asia, terutama wilayah Pasifik adalah wilayah yang subur. Taman Eden yang hilang. Dalam benak Australia dan Amerika, jikalau wilayah ini jatuh ditangan Korea dan China, maka hancurlah masa depan Negara-negara super power ini. Korea dan China pun berpandangan sama. Oleh karena itu, tidak ada pandangan cadangan, selain menguasai daerah-daerah ini. Buktinya, Australia dan Amerika “cemburu” dan melakukan pengintaian (penyadapan) diberbagai Negara, termasuk Indonesia.

Kalau memang hanya karena alasan ekonomi, mengapa Indonesia sebagai Negara berdaulat dan kaya raya, tidak bisa balik “serang” Australia – Amerika – Korea dan China?  Mengapa kita membiarkan Negara-negara ini datang berebut kekayaan alam di Indonesia. Apakah Indonesia tidak punya insinyur pertambangan, ahli pengeboran, sarjana teknik yang bisa mengelolah kekayaan alam sendiri. Mengapa kita tidak bisa memperkerjakan ribuan pencaker di negeri ini di  sebuah tambang minyak misalnya. Ataukah Negara ini dirikan untuk jual-jual tambang kepada Aus-USA-Korea-China, lalu Indonesia ini hanya didirikan untuk mempersiapkan tim keamanan, tukang sapu, tolong “basmi lembaga adat”, bunuh-bunuh orang asli dan lain sebagainya.

Kalau memang demikian, saatnya kita malu. KITA HARUS MALU karena apa? Karena ternyata kita tidak punya jiwa, kita tidak punya nation building, kita tidak punya jati diri dan tentunya harga diri sebagai Negara yang berdaulat.

Seandainya, detik ini saya miliki sebuah partai besar di negeri ini. Lalu di pemilihan Presiden RI 2014, partai saya menang. Maka program utama dan pertama saya adalah mendirikan sekolah pertambangan dari tingkat TK sampai perguruan tinggi. Hah, lucu tapi tolong simak. Dengan demikian, hasil didikan  bisa buka dan kelolah SDA tambang yang ada dan menyebar di Indonesia, terutama di Papua.

Saya tidak mau, kekayaan tambang yang Tuhan berikan kepada saya untuk jaga, dibawa pergi ke Amerika, ke Australia, ke Korea dan tugas kita hanyalah menyaksikan kota-kota besar yang dibangun dengan kekayaan alam Papua lewat layar kaca. Loh.

Tambang Gas di Bintuni misalnya. Kalau Indonesia sudah tahu keberadaan Gas sebelumnya, maka tidak perlu jual ke Pangeran Inggris. Cukup Indonesia membuat program jangkah menengah dan panjang, agar suatu saat orang Bintuni sendiri bisa kelolah dan menikmati kekayaan gas diatas tanah kelahirannya.

Sekarang bicara soal tambang, bicara soal penguasaan ekonomi sudah terlambat. Tanah Papua sudah dibagi-bagi. Kepala Burung sudah dikuasai Inggris lewat LNG Bintuni. Wilayah Selatan, Freeport sudah dikuasai Amerika Serikat. Wilayah Tengah dan Utara, Korea sudah mulai masuk. Dalam pada ini, Indonesia dan Papua malah menjadi satpam dan tukang sapu. Cukup puas dengan pembagian fee yang tidak seberapa.

Untuk proteksi kekayaan alam dan orang Papua, Jakarta sudah memberikan OTSUS kepada orang Papua dengan UU 21/21. Tapi Jakarta masih terbitkan sejumlah regulasi dibidang pertambangan yang ujungnya masih menjual tambang dan kekayaan alam kepada kaum kapitalis diatas. Sebuah kelakuan yang tidak empoweris dan membunuh manusia di negeri sendiri.

Berdasarkan alur pemikiran ini, maka ijinkan saya untuk menjadi Kepala Suku Besar Orang Pribumi Papua yang diberi kuasa untuk hadir dan hidup di pinggir kekayaan alam yang melimpah ini. Sebagai kepala suku, lewat tulisan ini saya ingin berseru, agar sebaiknya kekayaan alam di Papua di kelolah sendiri oleh orang Papua sendiri. Pemerintah Daerah lewat dana-dana Otsus sudah saatnya mempersiapkan berbagai program pembinaan dan pelatihan dibidang pembukaan tambang-tambang secara swadaya.

Sebagai Kepala Suku Tulisan, saya juga berseru untuk STOP jual-jual tambang kepada Australia, Amerika Serikat, Korea, China atau Inggris. Kita bangsa besar, kita bisa kelolah kekayaan kita dengan cara-cara beradap. Jangan pakai cara-cara biadap, preman seperti laku selama ini, kita cenderung dan sistematis habisi LMA (Lembaga Masyarakat Adat) lalu mendirikan LMA tandingan yang bisa disuap. Setelah disuap, diam-diam pergi jual ke Australia, Amerika atau Korea.

Bangsa Indonesia khususnya Papua, mari dengarkan petuah kuno Biak “Rakya Syuber” – bahaya akan datang, bahaya didepan mata. Mari kita percaya diri, menghargai apa yang ada pada diri kita, membina dan mengembangkan apa yang Tuhan berikan pada kita. Hentikan upaya-upaya jual tambang. Sebab, HP milik presiden saja disadap, apalagi kita orang kecil. Spionase sekarang sudah didepan rumah.

“Rakya Syuber” itu bukan berarti rakyat subur, tetapi itu awal dari perang dunia ketiga.

181total visits,1visits today

Leave a Response