Now Reading
Konspirasi Freeport (1): Jatuh di Kuba, Bangkit di Papua
0

Konspirasi Freeport (1): Jatuh di Kuba, Bangkit di Papua

by adminJuly 26, 2018

Pengantar | Prolog

PADA sekitar tahun 1961, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak  dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah rakyat Indonesia. Namun kebanyakan dari mereka, gerah dengan peraturan itu. Akibatnya, skenario jahat para elite dunia akhirnya mulai direncanakan terhadap kekayaan alam negeri tercinta, Indonesia. Konspirasi internasional mulai terkuak dibalik jatuhnya FJ Kennedy, Soekarno dan hadirnya Soeharto, CIA dan Freeport.

Soekarno selaku salah satu pendiri NKRI punya maksud dan tujuan yaitu ingin bebas dari cengkeraman penjajah dan ingin mengatur diri sendiri dengan segala kemampuan yang ada agar sejajar dengan bangsa lain di dunia. Bangsa Indonesia,  selama 350 tahun berjuang mengusir Portugis, Spanyol, Belanda dan Jepang agar kemudian hari ingin menjadi Negara yang merdeka, berdaulat dan sejahtera diatas kekayaan alam Indonesia yang berlimpah ruah berdasarkan UUD 1945, pasal 32,33.

Awalnya, Soekarno kirim mahasiswa-mahasiswa Indonesia ke luar negeri agar kemudian hari bisa mengelolah dan mengoperasikan – menggali tambang-tambang yang ada di Indonesia. Namun niat mulia Soekarno ini tumbang oleh kepentingan Kapitalis Internasional. Oleh Dumupa (2006:32), Kapitalis Internasional itu  disebut “Setan atau Iblis Internasional”. Oleh sebagian kalangan disebut “Pro Zionis” Yahudi yang ingin menguasai Ekonomi Dunia. Dalam rangka mewujudkan cita-cita itu, setan Internasional ini menggulingkan Presiden Amerika JF Kennedy, kemudian habisi 7 Jenderal pro Soekarno dengan alasan PKI dan terakhir Seokarno ditipu emas batangan oleh banker dunia. Ikuti terus kisahnya yang kami rujuk dari berbagai sumber.


Jatuh di Kuba, Bangkit di Papua

Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport“.

Walau dominasi Freeport atas “gunung emas” di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya.

Dalam tulisannya, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun pada tahun 1959.

Saat itu di Kuba, Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan.

Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, akhirnya terkena imbasnya. Maka terjadi ketegangan di Kuba.

Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.

Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilsonyang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen.

Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jacques Dozy di tahun 1936.

Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda.
Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya.

Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah.

Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah.
Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.

Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain.

Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah.

Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak!!

Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, hanya dalam waktu tiga tahun pasti sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. bersambung…

Sumber Rujukan:

_________http://dypras41813010014.blog.sisteminformasi.fasilkom.mercubuana.ac.id/konspirasi-jf-kennedy-sukarno-suharto-cia-dan-freeport/

_________http://www.merdeka.com/peristiwa/kalau-soekarno-jfk-masih-hidup-freeport-tak-akan-keruk-papua.html

_________http://indocropcircles.wordpress.com/2013/05/29/bongkar-konspirasi-antara-sukarno-suharto-dan-freeport/

 Pada sekitar tahun 1961, Presiden Soekarno gencar merevisi kontrak pengelolaan minyak  dan tambang-tambang asing di Indonesia. Minimal sebanyak 60 persen dari keuntungan perusahaan minyak asing harus menjadi jatah rakyat Indonesia. Namun kebanyakan dari mereka, gerah dengan peraturan itu. Akibatnya, skenario jahat para elite dunia akhirnya mulai direncanakan terhadap kekayaan alam negeri tercinta, Indonesia.

_____http://indocropcircles.wordpress.com

131total visits,1visits today

Leave a Response