Now Reading
1986: Milik Maradona
0

1986: Milik Maradona

by adminJuly 26, 2018

TAHUN 1986 merupakan tahun gemilang bagi persepakbolaan Meksiko, tuan rumah Piala Dunia waktu itu. Namun, bintang turnamen itu justru berasal dari Argentina, yakni sang kapten Diego Maradona. Pada tahun itu, Maradona meraih puncak kariernya di pentas internasional disertai kontroversi gol “Tangan Tuhan”.
Tuan rumah Piala Dunia ke-13 sebetulnya diserahkan kepada Kolumbia. Karena masalah keuangan di negara tersebut, FIFA kemudian memindahkannya ke Meksiko. Dalam hal infrastruktur, Meksiko yang pernah menjadi tuan rumah 16 tahun sebelumnya dianggap lebih siap dibanding calon lain yakni Kanada dan Amerika Serikat. Delapan bulan sebelum penyelenggaraan PD 1986, negara di Amerika Utara itu sempat diguncang gempa bumi yang menewaskan 20.000 orang. Untunglah gempa ini tak merusak 12 stadion tempat penyelenggaraan turnamen.
Tiga negara menjalani debut mereka di putaran final, yakni Kanada, Denmark, dan Irak. Kanada dan Irak tersingkir di fase grup, demikian pula dengan kontingen Korea Selatan, yang sempat mengundang decak kagum lewat tendangan-tendangan jarak jauh para pemainnya. Denmark dengan duo pemain depan Michael Laudrup dan Preben Elkjaer-Presen membuat kejutan dengan menguasai Grup E, salah satunya dengan menekuk runner-up Jerman Barat di fase grup.
Pada turnamen kali ini, FIFA kembali memberikan peraturan baru di mana empat tim terbaik yang menduduki peringkat ketiga di masing-masing grup boleh ikut ke fase knock out bersama 12 tim yang menjadi juara dan runner-up grup. Berkat aturan ini, Belgia, Polandia, Bulgaria, dan Uruguay berhak lolos ke 16 besar. Belgia bahkan berhasil melangkah ke semifinal dengan menekuk Uni Soviet di perdelapan final dan menang adu penalti lawan Spanyol di perempat final.
Kejutan juga dibuat oleh Maroko. Mereka menjadi negara pertama dari Afrika yang berhasil lolos ke fase knock out setelah menjadi pimpinan Grup F. Di babak 16 besar, langkah mereka langsung terhenti oleh Jerman Barat. Jerman pula yang menyingkirkan tuan rumah Meksiko dalam laga alot di perempat final. Di babak ini pula, terjadi persaingan alot oleh setiap kontestan. Dari empat laga yang berlangsung, hanya partai Argentina versus Inggris yang berakhir dalam waktu 90 menit. Partai lainnya harus diakhiri dengan adu penalti.
Argentina yang hanya sekali kalah pada laga kualifikasi kemudian menaklukkan Belgia di semifinal dengan skor akhir 2-0. Kedua gol dicetak oleh Maradona dan membuat jumlah golnya di turnamen tersebut menjadi lima gol. Jumlah gol Maradona itu rupanya masih kalah dari top scorer asal Inggris, Gary Lineker. Lineker kemudian mendapat penghargaan Sepatu Emas, tetapi Maradona menjadi Pemain Terbaik berkat lima gol dan lima assist-nya dalam tujuh laga waktu itu. Salah satu gol tersebut ia buat dengan menggunakan tangan kiri ke gawang Inggris yang dijaga oleh Peter Shilton pada perempat final.
Gol pembuka Maradona di pertandingan itu kemudian dikenang sebagai “la mano de Dios” atau gol “Tangan Tuhan”. Gol keduanya, tiga menit setelah gol pertama, tercipta melalui aksi solo run dari lapangan tengah, berbelok-belok mencari celah, sambil melewati lima pemain Inggris. Pada 2002, FIFA melakukan jajak pendapat dan menempatkan gol tersebut sebagai gol terbaik sepanjang abad.
Di final, Maradona tidak mencetak gol. “Albicelestes” memimpin 2-0 lebih dulu, tapi Jerman berhasil menyamakan skor. Enam menit menjelang bubar, Maradona memberikan assist cantik kepada Jorge Burruchaga dan terciptalah gol yang membawa armada Carlos Bilardo tersebut menjadi pemenang.
Maradona pun menjadi satu-satunya pemain yang begitu dominan dalam sejarah Piala Dunia.
Secara keseluruhan, tercatat 80 pemain mencetak gol di turnamen ini. Dari 132 gol, Argentina mencatat jumlah gol paling banyak yakni 15 gol, adapun Kanada menjadi satu-satunya tim yang sama sekali tak menjebol gawang lawan. Uni Soviet yang didominasi oleh pemain-pemain Dynamo Kiev mencatat skor terbesar pada penyisihan grup yakni saat mengalahkan Hungaria dengan 6-0.
Meksiko mengandalkan top scorer La Liga Spanyol, Hugo Sanchez, tapi dia justru menghabiskan banyak waktu untuk memprotes wasit dan melakukan pelanggaran yang tak perlu. Meski kalah di perempat final, “El Tri” memperlihatkan penampilan menawan dan itu merupakan penampilan terbaik mereka di Piala Dunia.
Jerman Barat, Inggris, dan Brasil masih seperti sebelumnya mengandalkan pemain-pemain bintang yang sudah menapak usia senja. Karl-Heinz Rummenigge, Michel Platini, dan Zico diberi kesempatan dalam laga terakhir mereka di Piala Dunia, tapi hanya Platini yang tampil cukup bagus. Rummenigge dan Zico berkutat dengan cedera lutut dan jarang bermain 90 menit penuh.
Platini dkk akhirnya bertemu Zico cs pada perempat final di Guadalajara. Platini berhasil menyamakan skor 1-1 dan pertandingan pun akhirnya harus dilanjutkan lewat adu penalti. Zico berhasil menunaikan tugas sebagai algojo, sementara Platini gagal mencetak gol dari titik putih. “Les Blues” akhirnya menang dan Platini pun bertemu Rummenigge cs di sermifinal.
Pemain termuda di turnamen ini adalah pemain tuan rumah F.J. Cruz, sedangkan pemain tertua adalah Pat Jennings, kiper Irlandia Utara. Itulah Piala Dunia terakhir bagi Jennings, tepat pada usia 41 tahun. Ia menjadi satu-satunya kiper yang pernah bermain dalam enam periode Piala Dunia.

102total visits,2visits today

Leave a Response