Now Reading
Wahai Anakku Cantik
0

Wahai Anakku Cantik

by adminJuly 25, 2018

Wahai anakku cantik, laki laki jaman sekarang tidak bisa dipercaya. Kesetiaan diragukan, apalagi penyakit HIV dan AIDS. Manusia hidup normal, pasti saja ada rasa ketertarikan (berpacaran). Tetapi ingat, dibalik kegantengan itu, kita tidak tau, darah apa yang sedang mengalir dalam tubuh laki laki sana tuh. Darah O, B, AB, atau darah X.

Bapak sarankan sama anak, wahai anakku yang aku sayang. Periksa ke dokter sebelum engkau pacari dia. Sekalipun itu berat, lakukan itu dulu, demi masa depanmu. Engkau wanita hebat, pandai dan tulus. Jagalah itu semua dengan periksa di dokter. Dengan demikian agar kedepan engkau selamat.
Hindari piala bergilir, hindari gonta ganti pacar. Sebab vitamin vitamin yang dorang hambur sana sini, kitong tidak tau. Biasakan hidup dekat dengan Tuhan. Ulangi doa Salam Maria, sekalipun di kamar mandi. Doa rapalan Komauga adalah darahmu sesungguhnya. Engkau manusia hebat.
Bapak akui engkau wanita Papua yang cantik. Penuh pesona. Tubuhmu dihiasi lagu lagu Mambesak. Bibirmu diolesi lantunan Yaromba. Hatimu penuh aroma Mitha Talahatu. Tetapi hindari darahmu disusupi suntikan Penisilin menyelimuti seluruh masa depanmu.
Bapak Sayang kamu, wahai anakku cantik. Kugoreskan surat ini dari Morgo, sebelum naik ke Wadou… Kohaaaa Anatai.
***{flike}

Pagi itu, 22 November 2015 sekitar jam 7 pagi, saya sudah berada di depan halaman Papuapos Nabire. Tak sengaja mataku melotot ke arah belakang pagar. Dua sejoli muda lewat berangkulan.

Ini terbalik. Seharunya, si cowok yang merangkul ceweknya, tetapi ini justru ceweknya “gendong” pacarnya, kakaknya atau siapalah. Sa perhatikan agak lama. Ternyata, cowok itu sudah mabuk berat. Matanya sudah dilangit pagi, kaki sempoyongan, jalan tidak karuan. Cewenya sudah keringat biji jagung, kelelahan.

“Wei, pagi-pagi ko ada perhatikan apa tuh”, begitu sapaan Yanex, lopper Papuapos Nabire itu.

“Itu sana tuh, tuh, coba ko lihat. Kasihan tuh perempuan. Pagi-pagi su gendong laki-laki besar”, sahutku.

Dalam hatiku, sudah mulai berbicara. Memang laki-laki Papua tara tau mabuk. Minum mabuk bikin kaya budaya Papua. Biasanya, kalau minum mabuk, khusus pada acara-acara tertentu, tapi ini dijadikan sarapan setiap hari. Orang tidak sadar lagi, kejadian-kejadian yang terjadi pada saat minum. Bila sudah sadar, hendaknya sudah harus malu dan malu.
Total Page Visits: 386 - Today Page Visits: 1

Leave a Response