Now Reading
Okai Too Okai
0

Okai Too Okai

by adminMarch 27, 2017

Ia suka berdiri di tengah rakyat, berbicara nyambung, sederhana dan dipahami. Ia suka membantu, tidak membeda-bedakan siapapun, sekalipun lawan politik.

Tidak tau, berapa gereja dan mesjid yang ia telah bantu, dari tahun ke tahun. Sekalipun dibatasi oleh batas administrasi, batas negara ataupun batas provinsial apostolik, ia siap datang, hanya untuk mengagungkan Bapa di surga.

Okai too okai / cuma dia sendiri.

Ia adalah tokoh kasih, mengedepankan kasih, dan tokoh pengasih. “Kasihilah sesamu manusia seperti ko manja ko pu diri”. Kalimat itu ia bawa bawa dalam noken. Ia praktekkan dalam hidup, bukan karna dorongan harta dan tahta, tetapi karena kasih. Ia ingin memberikan contoh sekalipun tak akan pernah diikuti.

Baginya, air yang dituang dalam gelas, harus diminum agar disiram air baru lagi. Tanda heran satu pindah ke tanda heran berikut.

Okai too okai / cuma dia sendiri.

Banyak pejabat, banyak orang kaya, jutawan yang pernah hidup dulu, sekarang dan nanti. Tetapi ia tampil unik dengan gayanya dan diatas segala kemanusiannya.

Sebenarnya, ia ingin memberikan contoh bagi yang lain. Agar jangan sayangi uang. Agar jangan sayangi kota. Jangan sayangi kemewahanmu. Tetapi mohon sayangi mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan. Orang miskin, koteka, kolot, lumpur, badaki dan seterusnya. Sebab Yesus ada disana dan memang lahir disana ‘kok.

Ia selalu ingin hadir di samping gereka-gereja, mesjid dan pesantren, perkumpulan dan perkawan. Sebab merekalah yang setiap saat mendukung anda dengan doa dan amal.

Okai too okai / cuma dia sendiri.

Masih banyak tokoh lain, yang dengan kelebihan dan talenta yang diberikan Tuhan, mendarma bhaktikan hidupnya untuk ummat dan jemmaat. Mereka tidak butuh mege / dana, pujian dan sapaan berlebihan untuk angkat angkat mereka. Mereka hanya butuh jasanya, talentanya, dapat tersalur, agar Tuhan menambahkan berkat baru bagi mereka. Kesadaran itu, bukan yang lain.

Okei too okei / cuma hanya mereka.

Dan memang banyak nabi yang pernah hidup. Dan dalam hidupnya mereka menderita. Didalam penderitaan, Tuhan memberikan ilham berkali-kali, agar manusia menjadi manusia sesungguhnya. Sebab, tidak ada yang gratis setelah dongen Adam as.

Dan memang banyak Nabi yang pernah hidup. Nabi Ayub bahkan ditelah ikan buas, tetapi selamat hanya karena percaya satu Tuhan (monotheis). Daniel di jaman Nebukadnezar dengan mimpi pohon tertinggi di dunia. Semua itu didalam penderitaan, bukan didalam peradaban yang menjadi.

Dan Nabi Isa as. Tidak sombong diri sekalipun anak ruhani Allah. Dikagumi banyak agama, bukan hanya orang Kristen. Kisahnya diterjemahkan dalam beribu ribu bahasa di dunia. Serahkan nyawaNya, disalibkan wafat dan dimakamkan. Bangkit di hari ketiga dan naik ke surga hidup hidup.

Okai too okai / cuma dia sendiri.

{flike}

{fcomment}

Total Page Visits: 374 - Today Page Visits: 1

Leave a Response