Now Reading
Sejarah Singkat Group Musik Mambesak Papua
0

Sejarah Singkat Group Musik Mambesak Papua

Papua sedikitnya ada nama, harga diri dan eksistensi diantara umat manusia di bumi, tentu karena ada lagu-lagu yang pernah dibuat diangkat dianyanyikan di masa lalu. Salah satu group musik kebanggaan masyarakat Papua adalah Mambesak. Group ini dinilai mampu mempersatukan ratusan suku diatas tanah ini.

1.Cikal-Bakal

Sepintas sejarah, cikal bakal lahirnya group ini, berdiri pada tanggal 5 Agustus 1978 di Lembaga Anthropology Universitas Cenderawasih. Dipelataran Uncen itu, sebelumnya, duduk dua tokoh kenamaan bangsa Papua,  Arnold C Ap dan Andy Ayamiseba. Arnold dari Fakultas Antropologi telah mendalami musik akustik Hawaian dan Andy lebih mengumpulkan seniman Pop Papua. Keduanya bertujuan sama, mengangkat harkat dan martabat tanah Papua didalam lingkungan kebudayaan negeri ini. Tak terbersit tujuan politik diantara keduanya. Tetapi oleh pemerintahan orde lama yang serba kaku dan hamba Amerika, lebih menginginkan Papua kacau balau dan dibalik itu mau nikmati “ongkos satpam” dari negeri paman Sam.

Lalu,  Arnold Clemens Ap resmi ditunjuk menjadi pemimpin group. Martini Md. Sawaki, ditunjuk menjadi wakil. Sektretaris, Joel Kafiar, dan August Tethol menjadi bendahara.

Ap, kemudian menunjuk sejumlah tokoh antropolog dan seniman dari wilayah masing-masing untuk mengumpulkan lagu-lagu,  tarian dan pementasan. Diantara mereka sekaligus menjadi pencipta lagu-lagu Mambesak.

Didalam itu,  ada nama Sam Kapisa,  koordinator pengembangan Musik, Lagu Daerah dan Mob-Mob berciri Papua. Ada juga nama Tonny Wolas Krenak, bergerak dibidang pengembangan  Tarian Adat yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Yospan, Jeruk Nipis dan Wayase. Dibidang Theatre dan Pementasan ditunjuk Demianus Wariab Kurni. Berth Tanawani menjadi koordinator Publikasi dan Dokumentasi. Sedangkan Constantinopel P. Ruhukail dan Marthen L. Rumabar bertugas  di dapur rekaman, produksi siaran aradio dan distribusi kaset.

Penari dan penyanyi diantaranya Uslina Monim, Sance Wanggai, Joke Wanggai, Mary Samaduda, Maryon Krey, Selvi Samber, Jul Maniagasi, Thilda Letsoin,  Jan Piet Ap, E. Rumansara, Danny Mandowen, Paul Yaam, Willem Kiryar, Auleman Rumbewas, A. Frits Watofa, Andy Kawer, Josh Kapisa, August Ronsumbre, Moses Mangge,  Sony Werimon, Franz Rumbrawer, Jul Jembise,  Esther Sawaki,  Hiskia Hoor, Eduard M. Mofu,  Ham Wambraw, dan Job Rumayau (guest Singer ‘Sup Mowiya’).

2.Volume I s/d V

Rekaman Musik Daerah Mambesak di mulai pada akhir bulan Movember 1978, di halaman Museum Lembaga Anthropology Uncen. Volume Pertama dikeluarkan pada bulan February 1979, berisi 16 lagu daerah, memperkenalkan lagu: ‘Akai bi pamare’ (Mimika), dan ‘Waniambe’ (Jayapura).

Volume 2/1980 – berisi 16 buah lagu daerah, memperkenalkan lagu ‘Yayun Wambeso’ (Biak) dan ‘Hindang Makhendang’ (Sentani).

Volume 3/1980 (akhir 1980) berisi 10 buah lagu daerah memperkenalkan ‘Porea Gareso’ (Barapasi), dan ‘Hemeng Preka’ (Iha, Fakfak).

Volume 4/1982 berisi 14 buah lagu daerah dengan memperkenalkan ‘Airaro Beseya’ (Wondama) dan ‘Nit pughuluok en’ (Kurima).

Volume ke-5 yang direncanakan untuk direkam pada tahun 1983 tidak terlaksana karena pihak keamanan Pemerintah Republik Indonesia mulai memantau kegiatan nyanyi dan tari Mambesak yang berujung pada penangkapan dan penahanan Arnold Ap dan Eduard MOFU.

3.Pasifican

Mambesak mengangkat dan memperkenalkan budaya Pasifik dan Hawaian. Kutipan melodi, pukulan tifa, iringan rithem, pengaturan irama dan penentuan birama dari semua lagu Mambesak bercirikan Hawaian Papua. Kebudayaan Hawaian ini ternyata tersebar hingga Ambon,  Ternate hingga Vanuatu, dan Rock Country Amerika.

Coba anda dengarkan irama pukulan musik musisi top dunia seperti Jim Reef, Vince Gill,  Conwaytweety,  Cornetes dengan lagu Waikiki Tamoure. Semua dari pukulan musik Mambesak. Asyik, melangkolis dan membawa damai.

Kemegahan Mambesak adalah, Arnold Ap mampu mengangkat ciri khas budaya dari masing-masing lagu. Setiap lagu diarensemen berbeda dan dinyanyikan sesuai jiwa lagu.

Penyanyi pun tak monoton. Setiap lagu dinyanyikan oleh penyanyi yang berbeda dengan warna suara masing-masing. Itulah kemudian, Mambesak menjadi sebuah group yang tak membosankan di telinga bangsa Papua.

4.Etnik

Etnik dan tradisi berbeda. Lagu etnik adalah lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh orang tua di kampung-kampung untuk menidurkan anak, rasa cinta, rasa sedih, kecewa, dan bahkan mengutuk orang. Bentuk lagunya resitatif atau berulang-ulang, hanya lirik yang berbeda-beda.

Mambesak dalam hidangan lagu-lagunya, telah berhasil mengangkat lagu-lagu etnik dari sejumlah daerah. Selain dari itu, semua lagu Mambesak masuk dalam kategori Pop Tradisional. Yaitu jenis lagu yang dinyanyikan dengan musik gitar atau ukulele. Karena itu, lagu-lagu Mambesak sangat nampak dalam unsur unsur budaya Hawaian yang mengandalkan Jukulele, Gitar dan Bas kutik.

5. Harapan

Mengangkat budaya Papua adalah harapan semua bangsa Papua. Karena itulah warna dan harga diri bangsa Papua, sebagai bagian dari warga dunia yang berbeda-beda dan unik.

Munculnya budaya patola, kewa-kewi muda mudi sedikitnya akan mengikis budaya bangsa Papua. Anak didik kita sudah akan lupa budaya Papua seperti Yospan. Sekarang justru masyarakat Jawa Toraja yang belajar mati-matian terhadap gerakan-gerakan Yospan. Apalagi lagu-lagu etnik.

Oleh sebab itu, sekarang harus menjadi perhatian penting para bupati dan pemangku untuk lebih memperhatikan budaya Papua yang semakin hari semangkin runtuh dihadapan televisi dan henphone.

Adakah saluran televisi otonomi khusus yang hanya mengangkat budaya Papua? Seberapa jauh anggaran untuk menghadirkan Mechu Imbiri, Wem Moesido live angkat lagu Merauke, atau Edo Kondologit nyanyi lagu etnik Kerom Arso atau khususnya lagu-lagu versi Mambesak – Yaromba, atau kebawahnya, etnik Papua?

Sumber Foto

Dokumentasi swarapapua.com dan google internet. (n)

960total visits,1visits today

Leave a Response