Now Reading
Isak
0

Isak

by JamesNovember 17, 2014

Sering tak terduga: kemurnian menghendaki kekerasan. Bahkan kematian. Meskipun pada awalnya ini bukan tema kisah Isak, orang dalam cerita ini, yang berjalan naik ke hutan:

“Lelaki itu datang, berjalan ke utara. Seorang yang wungkul dan kuat, dengan jenggot kemerahan yang kaku, dan bekas luka di tangan dan wajahnya… sosok laki-laki dalam kesendirian yang gagah….”

Isak, itulah tokoh novel Markens GrØde Knut Hamsun (terbit 1917, diterjemahkan W.W. Worster menjadi Growth of the Soil). Isak menjauh dari “peradaban”—karena “adab” telah ditentukan oleh abad ke-20. Dengan kata lain, inilah peradaban dengan ekonomi kapitalis yang dilecut loba dan laba, gemuruh mesin yang menggusur apa yang alami, keberisikan suara sumbang karena bunyi-bunyi dari luar yang tak cocok.

Isak masuk hutan: daerah Almenning yang belum dipecah jadi milik yang bisa diperjualbelikan. Ia sampai ke kaki sebuah bukit, tempat kali kecil mengalir dan kelinci meloncat-loncat di antara pakis dan kembang bintang berpucuk tujuh.

Di situ lelaki itu berhenti. Di situ ia menginap. Ia mulai menyiapkan tempat, termasuk membawa tiga ekor kambing. Suatu ketika seorang Lapp pengembara lewat dan melihatnya. “Akan tinggal di sini selamanya?” tanyanya. “Ya,” jawab Isak.

Dari orang-orang Lapp yang lewat itu juga Isak mendapatkan seorang pembantu perempuan yang dibutuhkannya. Namanya Inger. Perempuan ini bersedia hidup dengan lelaki wungkul itu karena ia tak punya banyak pilihan di desanya. Bibirnya mencong, cacat.

Tapi pelan-pelan, Isak mencintainya, meskipun hubungan mereka tak lepas dari kepentingan praktis. Suatu hari Inger datang membawakannya seekor sapi. Merasa berutang, Isak membawakan seekor kuda.

Mereka akhirnya beranak, meskipun dengan tragedi. Inger selalu takut anaknya akan mewarisi cacat tubuhnya, dan ketika itu benar terjadi pada anak ketiga, bayi itu dibunuhnya.

Kemudian perempuan ini beroleh kemahiran menjahit. Ia mulai hidup lepas dan riang. Akhirnya Inger, yang memperbaiki bentuk mulutnya dengan operasi, pada usia sekitar 30 meninggalkan Isak. Bisiknya kepada diri sendiri tentang lelaki gunung itu: “Uh, kamu, tetap saja macam dulu….”

Sebenarnya Isak juga berubah. Ia tak bisa lepas dari abad ke-20 dan “kemajuan”. Bersama Geissler, temannya yang terdidik, mahir berbisnis, dan seperti tak terikat pada lokalitas mana pun, Isak mengubah hubungannya dengan tanah: ia memiliki dan menguasainya. Ia jadi tuan tanah Sellanraa, lengkap dengan sistem irigasi. Ia bahkan jadi kaya setelah tanahnya, yang mengandung tembaga, ia jual ke pengusaha Swedia.

Tapi kemudian hartanya habis dan ia kembali mengolah tanah. Isak menyesali anaknya, Eleseus, yang jadi pedagang, hidup dari komoditas, benda yang cuma dihargai dengan nilai tukar. Isak lebih akrab ke bumi, sesuatu yang tak bergantung pada harga tapi punya makna. “Bumi yang tumbuh…,” kata Isak, “adalah satu-satunya sumber, asal dari semuanya.”

Asli, murni. Pada dasarnya ia tokoh ideal Knut Hamsun.

Yang asli dan yang murni memang bisa mempesona sebagai sesuatu yang tanpa najis—walau keaslian dan kemurnian sebenarnya tak pernah mungkin. Tapi Hamsun percaya itu sebagaimana ia percaya ke masa sebelum “peradaban”, dan sebab itu ia menentang kapitalisme yang membawa mesin dan ketamakan. Menjelang akhir novelnya, ia gambarkan Isak sebagai hero:

“Seorang penggarap ladang, jasad dan jiwa; seorang pekerja di tanah yang tanpa jeda. Sesosok hantu yang bangkit dari masa lalu yang menuju ke masa depan… tapi, dengan semua itu, seorang manusia hari ini.”

Hamsun tak menyebut, “hantu” itu tak punya masa lalu yang murni, juga bukan makhluk yang tak tersentuh. Sejarah Isak dibangun dari pertemuan dengan orang Lapp, Inger, Geissler, orang Swedia, dan entah apa lagi. Dan sebenarnya tak jelas benarkah Isak di akhir novel itu masih asli seperti bumi.

Tapi Hamsun memegang mithos tentang “asli” dan “murni” dalam hidupnya. Pada 1882 ia berkelana di Amerika Serikat dan melihat orang-orang “Indian”. Ia makin yakin, perbedaan ras itu soal yang hakiki. Bukunya tentang “kehidupan budaya Amerika modern” yang terbit pada 1889 menganjurkan agar orang Hitam, makhluk “setengah-monyet” itu, dikembalikan ke Afrika. Tak hanya itu. Dalam majalah Nationalt Tidsskrift 1925 Hamsun menyatakan pentingnya orang Yahudi dipindahkan dari Eropa, agar “ras Putih dapat menghindarkan percampuran darah lebih jauh”.

Ia, tentu saja, mengagumi Naziisme.

Juga sebaliknya. “Pemikir” Nazi terkemuka, Alfred Rosenberg, menganggap Markens GrØde sebagai “epos besar masa kini tentang kemauan bangsa Nordik dalam bentuknya yang primordial dan kekal”. Bahkan Hitler mengirimkan ucapan selamat ketika Hamsun mencapai usia 80.

Pada 1921 Hamsun menerima Hadiah Nobel Kesusastraan, terutama karena novel yang kita bicarakan di sini. Medalinya ia kirimkan ke Goebbels, tangan kanan Hitler. Ia bertemu dengan Hitler sendiri tiga tahun sebelum pemimpin besar Nazi itu bunuh diri. Setelah kematian itu, Hamsun masih menulis memuja pahlawannya. Hitler, katanya, “seorang pendekar perang untuk umat manusia, seorang nabi dengan syi’ar baik bagi semua bangsa.”

Hamsun tak peduli bahwa syi’ar tentang kemurnian, keaslian, dan primordialisme dari iman Naziisme akhirnya membinasakan: yang tak murni dan tak asli harus dihabisi.

2011: kita ketemu Anders Behring Breivik, sang pembunuh 77 pemuda. Tak mustahil Hamsun hidup lagi di hatinya. Hanya kini yang harus disingkirkan bukanlah Yahudi, melainkan muslim—sebagai “najis” Eropa.

Kemurnian: alasan yang tua untuk pembunuhan baru.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 08 Agustus 2011~

238total visits,1visits today

Leave a Response