Now Reading
Gembalakanlah Domba-Dombaku (Yohanes 21:15-19)
0

Gembalakanlah Domba-Dombaku (Yohanes 21:15-19)

by Peyton ManningNovember 17, 2014
Kedua orang tua saya juga menasihati dan membekali perjalanan hidup saya untuk selalu berbicara JUJUR walaupun itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkannya. “Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelah yang akan tetap tinggal di situ” (Amsal 2:21).
Positives

Sed sit amet aliquam elit. Nam sit amet malesuada mauris. Duis ut nulla eget felis imperdiet sodales. In hac habitasse platea dictumst.

Sed iaculis urna non velit accumsan porttitor. Praesent in sodales nisi. Nulla facilisi. Duis lobortis tellus aliquet suscipit pretium.

Negatives

Pellentesque egestas id odio et suscipit. Donec quis mauris vitae nisi tristique pellentesque elementum et odio. Donec congue vestibulum semper. Duis dictum suscipit posuere.

Aliquam molestie orci nulla, id facilisis dolor malesuada quis. Maecenas elementum lorem vel lacus dapibus sagittis.

Gembalakanlah Domba-Dombaku (Yohanes 21:15-19)

Oleh: Pdt DR Socrates C. Yoman

1. Pendahuluan

Sejak saya masih kecil di kampung kecil, Yiwenggame, Lanny Jaya, pada 1973, saya melihat banyak anggota TNI yang bertugas di Tiom dalam jumlah besar. Mereka bertugas, enam bulan, satu tahun paling cepat dan dua tahun paling lama dan saling bergantian. Watak dan perilaku mereka berwarna/bercampur, ada yang kasar, ada yang arogan, ada yang tidak bermoral dan ada yang manusiawi dan bersahabat. Lebih banyak kasar dan tidak bermoral.

Waktu saya sekolah di Sekolah Dasar Negeri di Tiom kota, saya menyaksikan satu peristiwa yang sangat memilukan hati saya dan saya rekam peristiwa ini pertama kali dalam sejarah hidup saya. Pada saat saya pulang sekolah,saya melihat ada tiga anggota TNI menangkap satu orang tua dari kerumunan orang banyak dan mereka memukul orang tua ini dan mengelurkan darah dari hidung dan mulut.

Tidak sampai ditempat umum itu, orang tua dibawa ke Pos TNI di Gunalome dekat halaman sekolah saya. Orang tua ini dipukul bergilir dari anggota TNI di pos itu. Saya mendengar suara orang tua ini meminta tolong. Saya amat sedih melihat orang tua ini keluar dari pos TNI itu darah terus mengalir dari hidung, mulut, kepala yang dilukai dan muka dan hidung membengkak.

Semakin membuat saya tenggelam dalam kesedihan dan membuat hati saya berkeping-keping, tersayat dan terluka ialah ketika anaknya yang masih kecil datang memeluk orang tua itu dan ia menangis.

Saya menyaksikan dan saya menjadikan kejadian ini secara langsung waktu itu dan orang tua ini mencucurkan air mata diantara darah yang sedang mengalir. Darah dan air mata mengalir bersamaan. Istrinya memberikan handuk yang lusuh dan membersihkan darah dan air mata. Saya menyaksikan orang tua memikul anaknya dibahu dan pergi ke kampung mereka. Peristiwa yang merendahkan martabat manusia ini disaksikan orang banyak yang ada pada saat itu. Orang banyak takut dan memilih diam dan tidak ada yang membelanya.

2. Nasihat Orang Tua

Saya pulang ke kampung dengan hati yang berkeping-keping dan pikiran yang kacau dan hati yang tersayat. Saya tiba di kampung dan berjumpa dengan Ayah dan Ibu dan saya menangis. Ayah dan Mama saya bingung dan bertanya.

Kenapa anak menangis. Saya jelaskan peristiwa baru saja yang saya saksikan itu kepada kedua orang tua. Ayah saya sampaikan nasihat yang saya ukir di hati saya sampai hari ini:
“Anak, kaki dan tanganmu masih pendek dan belum kuat. Apalagi lidahmu masih belum kuat. Kamu Sekolah dengan baik dan rajin. Pada ada waktu nanti, kaki dan tanganmu sudah cukup kuat untuk berdiri dan lidahmu makin kuat, kamu bisa berjalan dan gunakan lidahmu untuk bersuara dan membela bangsamu. Pasti waktumu akan tiba. Kamu harus menjadi orang besar. Kamu harus menjadi kepala. Kamu harus keliling dunia. Tujuan utama untuk membela bangsamu. Sekolah baik-baik. Jangan pernah membenci orang-orang yang melukai bangsamu. Bersuaralah dan melangkah dengan hati tulus, jujur, benar dan adil. Doa Ayah dan Mamamu menyertaimu. TUHAN Yesus membekati setiap langkahmu dan perjuangan untuk semua orang. Hargai semua orang. Kasihilah semua orang. Anak, jangan orang pernah melanggar nasihat Ayah dan Ibumu ini. Kamu harus pegang dengan erat nasihat ini. Sekarang, kamu jangan menangis, kamu orang besar.”
Nasihat dan orang tua saya menghilami saya dan sudah menjadi pelita hati dan cahaya pikiran saya. Sekarang kaki dan tangan saya sudah kuat. Lidah saya sudah kuat. Saya sudah sekolah. Doa kedua orang tua saya sudah menjadi nyata. Saya sudah menjadi pemimpin umat. Saya sudah mulai keliling dunia.

Sudah 45 tahun saya lalui sejak 1973 sampai 2018. Usia saya tahun ini sudah 55 tahun. Saya lahir pada 6 Juni 1963. Guru saya potong 4 tahun kelahiran saya dan tulis dalam ijazah 6 Juni 1967.

Dalam usia 55 tahun ini, saya tetap ingat dengan segar seluruh nasihat kedua orang tua saya telah menjadi terang hidup dan juga peristiwa yang menyayat hati saya.

Saya selalu membersihkan hati dan pikiran saya supaya nasihat-nasihat orang tua saya tidak menjadi redup dan tidak padam dan tidak menjadi kotor. Walaupun saya tahu, nasihat itu tidak mungkin redup, padam dan menjadi kotor. Karena nasihat kedua orang tua itu kekal dan abadi dan milikku dan tidak ada orang lain rampas dengan cara apappun. Saya menjaga dan memeliharanya sebagai benteng pertahanan.

Saya juga semakin kekalkan nasihat kedua orang tua saya dengan memegang nasihat TUHAN kepada Raja Daud:

”Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).

Kedua orang tua saya juga menasihati dan membekali perjalanan hidup saya untuk selalu berbicara JUJUR walaupun itu sangat menyakitkan bagi yang mendengarkannya. “Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelah yang akan tetap tinggal di situ” (Amsal 2:21).

3. Gembalakanlah domba-dombaku (Yohanes 21:15-19)

“Sesudah sarapan Yesus berkata Simon Petrus: Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?”

Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, aku mengasihi Engkau.”
Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Tuhan Yesus bertanya kepada Rasul Simon Petrus. Apakah engkau mengasihi Aku? Pertanyaan Yesus Kristus ini disampaikan tiga kali berturut-turut.

Penugasan ini sangat tegas, jelas bagi kita semua. Tugas mulia dan suci yang diberikan Tuhan Yesus kepada Rasul Simon Petrus ialah menggembalakan umat Tuhan. Jaga umat Tuhan. Lindungi umat Tuhan. Memberkati umat Tuhan. Menuntun umat Tuhan.

Tuhan Yesus tidak memberikan tugas dan perintah untuk OPM-kanlah domba-domba-Ku. Separatiskanlah domba-domba-Ku. KKSB-kanlah domba-domba-Ku. Kerjalah domba-domba-Ku. Tembaklah dan matikanlah domba-domba-Ku. Penjarakanlah domba-Ku. Angkatlah dan sandiwarakan domba-domba-Ku hanya pura-pura untuk misi dan kepentingan politik.

Mengapa Tuhan Yesus memberikan tugas kepada Rasul Petrus dan kepada Anda dan saya?

Karena, “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10).

Penugasan dari Yesus Kristus dan juga nasihat Rasul Simon Petrus kepada kita hari ini. Baik Presiden, Menteri, Pejabat, Petinggi TNI/Polri, Uskup, Ketua Sinode, Presiden Gereja dan semua orang bahwa:
“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Jangalah kamu berbuat seolah-seolah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” ( 1 Petrus 4:2-4 ).

Saudara-saudara, peristiwa tahun 1973 itu tidak pernah berubah wajah sampai hari ini. Karena pelakunya bangsa atau penguasa/ pemerintah yang sama. Marilah kita berdoa, bekerja dan berjuang dengan cara-cara damai dan bermartabat untuk mengakhiri penindasan dan penjajahan dan belenggu kuasa Iblis dan dosa dan juga kuasa kolonialisme Indonesia yang menduduki dan menjajah dan menindaskan domba-domba Allah di West Papua. Kita punya hak untuk membela hak hidup, martabat dan kehormatan kita.

Kita harus mengakhiri tetesan air mata, cucuran darah dan penderitaan domba-domba Allah di West Papua. Mari kita menghargai dan menghormati martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).*(Tuhan Yesus memberkati kita. Ita Wakhu Purom, Minggu, 18 November 2018; 97:15 AM).

Dr Socrates C. Yoman

Pendeta, Akademisi dan Pejuang Hak Asasi Manusia

Pendeta Socrates Sofyan Yoman, MA, merupakan ketua Umum Gereja Baptis, berpusat di Jayapura – Papua. Dia adalah tokoh gereja lokal yang terkenal vokal terhadap sikap pemerintah. Apalagi saat Papua mengalami konflik pelanggaran hak asasi manusia. Informasi selengkapnya, klik tombol kotak biru dibawah, anda akan mengetahui informasi dan tulisan-tulisan lain dari penulis.

Dr. Socrates C. Yoman

63total visits,1visits today

Leave a Response