Now Reading
Mantra Sang Kepala Perang
0

Mantra Sang Kepala Perang

by adminFebruary 4, 2012
BASMI KKN DARI LINGKUNGAN ANDA

Oleh Engelbertus P Degey

Aki mogaitaitage mee, aki oma naitage mee, aki pogo goutage mee, pusa mana bokouto mee… (bagi yang akan berbuat jinah, bagi yang akan mencuri, bagi yang akan membunuh, bagi yang akan menceritakan orang lain, bagi yang akan menipu……).

Mantra itu terus dirapalkan Minesaitawi (kepala perang). Sejurus kemudian (anak panah) yang dilepaskannya menancap tepat di dada Sabakina (babi putih). Darah segar mengalir deras. Lalu, sambil menengadah, Minesaitawi berkata: “saya samakan kamu yang akan melanggar Tota Mana (Hukum Tuhan) dengan babi yang saya bunuh ini.”

Tidak berapa lama, Dakehaugi Makai mendekati pohon Otika. Seekor Bunakina (babi hitam) diikat di pohon itu. Lalu, jus! Sebuah jubi menancap. Aneh, darah tidak mengucur. Dengan parang yang diberikan seorang pembantu Pastor Tillemans, Dakehaugi kemudian memotong pohon Otika. Justru pohon inilah yang mengeluarkan darah merah.

Peristiwa 27 Desember 1935 itu menjadi teramat penting hingga kini. Inilah pertanda berakhirnya perselisihan antar suku di pedalaman Paniai. Adalah ajaran Kristen  yang berperan besar menghentikan ‘kebiasaan’ itu. Pada waktu itu, tokoh Mapia, Auki Tekege duduk bersama Pastor Herman Tillemans dan peneliti DR Bijmler melalui Kokonau. Dihadiri juga oleh beberapa kepala suku besar (Tonawi/Zonawi) seperti Kigimozakigi dan Soalkiki Zonggonau, dari daerah Gey seperti Weakebo Mote dan Timadaa Badii.

Pertemuan inilah yang akhirnya menghasilkan perpisahan antara Meepii dan Ogaipii, meninggalkan jaman lama menuju jaman baru yang ditandai rapalan mantra Minesaitawi tadi. Sejak saat itu peradaban baru dimulai di wilayah Koteka tersebut.

 ***

Perang. Ya, sebelum agama Kristus masuk, perang antar suku kerab terjadi. Dikalangan suku-suku “rumpun koteka” (bangsa Dani, Lani, Wodani, Wolani, Migani, Ughunduni, Amungmee dan Mee), perang terjadi akibat pelanggaran Tota Mana. Didalam hukum Tuhan ini ada ajaran Tota Manaa. Ada istilah oma daa (jangan mencuri), mogai daa (jangan berjinah), pusa daa (jangan menipu), mee wagi daa (jangan memukul/membunuh), dan lain-lain. Apabila orang melanggarnya maka akan timbul perang antar marga dan atau suku.

Terlebih, sejak kecil, suku-suku ini secara alami dibekali cara berburuh dan membela diri dari serangan musuh. Minimal setiap lelaki dari suku ini wajib paham benar menggunakan jubi. Bocah berusia 5 – 10 tahun akan dibuatkan sebuah ukaa (busur) kecil lengkap dengan mapega (anak panah) yang terbuat dari alang-alang. Mapega ini dipergunakan untuk menembak belalang.

Menginjak usia remaja, mereka beramai-ramai membuat mapega ukuran besar yang khusus digunakan untuk berburu burung di hutang di hutang.  Jenis anak panah yang digunakan untuk berburu burung di hutang adalah enika (ujungnya bercabang-cabang kecil pendek). Mereka juga membawa pogo (untuk membunuh babi), koma (panah kuskus), dan jenis panah lain yang memiliki fungsinya masing-masing. Pogo dan koma juga sering dibawa pada saat perang.

Menginjak usia dewasa, orang tua akan melatih dan memberikan petunjuk kepada si pemuda tentang bagaimana mengikuti perang, termasuk Touse Mana (pantangan-pantangan) yang harus dipenuhi pada saat berperang.

1993total visits,2visits today

Leave a Response